|
Metro
Pestanya Para Penerus Tradisi
Kamis, 23 Desember 2004 | 11:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejak berabad lalu, penduduk yang mendiami kepulauan nusantara yang kini bernama Indonesia dikenal sebagai nelayan tangguh. Berbagai catatan sejarah pernah menorehkan kabar kedatangan kapal nelayan-nelayan Indonesia ke wilayah-wilayah yang bahkan teramat jauh untuk ukuran kapal modern sekalipun. Tapi itulah nelayan Indodnesia, mengarungi laut menyusuri kemurahan Sang Pencipta mencari rezeki yang berlimpah.
Telah lama pula, dikalangan kaum nelayan berkembang tradisi untuk mensyukuri berbagai limpahan katrunia dari laut yang diberikan Sang Pencipta. Bentuk ang paling populer di negeri ini adalah pesta laut. Dan tradisi ini pula yang diteruskan para nelayan di Pantai Utara Bekasi, Jawa Barat lewat Festival Nelayan dan Kesenian Tradisional 2004 yang digelar mulai hari ini, Kamis (23/12).
Sejatinya, pesta laut warga nelayan di kawasan Bekasi Utara ini sudah lama menghilang untuk waktu yang tak terbilang. Maka perlu waktu buat menyosialisasikannya kembali. Maklum saja, sudah banyak yang lupa. Dan bersamaan dengan pergelaran kali ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi menggeber berbagai kesenian tradisional dari seputar ranah pasundan. Kesenian Degung, Calung dan tradisi lain yang sudah mengakar selama ratusan tahun dihadirkan lagi.
Termasuk prosesi pemotongan kepala sapi dan menghanyutkannya ke laut pantai utara Bekasi. Ini merupakan simbolisasi kerelaan berkorban dan ucapan terimakasih kepada Tuhan yang melimpahi laut dengan banyak rezeki. Tengah hari, warga sekitar yang umum nelayan dan petambak, akan mulai mengarak sapi dengan iringan musik tradisional. Menurut Wakil Bupati Bekasi Solihin Sari, pemotongan sapi akan memulai seluruh prosesi dan perayaan festival.
Menurut Solihin, selama ini tradisi pesta laut lenyap, seiring munculnya pandangan bahwa ritual yang dilakukan memiliki semangat jahiliyah – anti Tuhan. "Saya yakin, ini akan mengundang protes dari kalangan legislatif, tapi saya sudah siap berargumen bahwa budaya ini sebenarnya untuk mensyukuri dan menghargai rezeki,” kata Solihin. Selain itu kata Solihin, tradisi ini merupakan kekayaan pariwisata yang patut dikenalkan.
Siswanto -- Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|