|
Nasional
Panglima TNI: Pembelian Peralatan Sebaiknya Tanpa Perantara
Selasa, 21 Desember 2004 | 19:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan sebaiknya pembelian alat utama sistem pertahanan dilakukan tanpa ada perantara pihak ketiga. Hal itu dikemukakannya di depan wartawan usai menjadi Inspektur Upacara peringatan Hari Juang Kartika, di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta Pusat, Selasa (21/12).
?Alangkah sebaiknya pembelian alat itu G to G (government to government- antar pemerintah)," kata Endriartono. Dia menjelaskan, sesuai dengan aturan, pembelian alat utama selama ini selalu dilakukan melalui pihak ketiga.
Endriartono juga tidak keberatan dengan kebijakan satu pintu untuk pembelian alat melalui Departemen Pertahanan. Namun, pembelian harus sesuai dengan permintaan dan kebutuhan TNI. Sebab, kata dia, TNI yang paling mengetahui kebutuhan alat pertahanan negara.
?Jangan sampai membeli alat namun ternyata tidak diperlukan,? katanya. Selain itu pembelian alat juga harus didasarkan prioritas keperluan. Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengatakan bahwa selama ini Satuan Penangulangan Teroris (Satgultor) Kopassus masih terus meningkatkan kemampuannya. Satuan itu dapat membantu pihak kepolisian bila diperlukan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa negara belum mampu memberikan yang terbaik dalam masalah pemenuhan kebutuhan TNI Angkatan Darat. Namun TNI AD tidak tergantung dengan masalah-masalah seperti embargo peralatan dari negara asing, dan lain sebagainya.
Dalam upacara itu, Satuan Penanggulangan Teroris Kopassus mempertunjukkan kebolehannya melakukan demo penanggulangan teroris menggunakan kendaraan taktis rancangan Ryamizard Ryacudu, Paksi. Kendaraan itu adalah kendaraan anti peluru yang dapat memuat 10 personel satuan anti-teror.
Dalam demo, kendaraan yang dapat mencapai kecepatan 120 km per jam itu, menembus dinding bangunan permanen yang dikuasai oleh teroris. Kendaraan yang baru diproduksi sebanyak 3 unit itu, rencananya akan diperbanyak lagi sehingga seluruhnya berjumlah 26 unit. Kendaraan itu akan diproduksi di bengkel Angkatan Darat Jakarta Pusat.
Indra Darmawan?Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Djali Jusuf (tengah), Danrem 011 Lilawangsa AY Nasution (kedua kiri), Panglima TNI Jenderal Endiartono Sutarto (kedua kanan), Danjen Kopassus Mayjen Sriyanto (kiri) dan masyarakat Aceh berdoa bersama seusai melakukan sujud syukur di Lapangan Sudirman Lhokseumawe, Aceh Utara, Selasa, 10 Desember 2002. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20030123].](/hg/photostock/2004/12/17/s_BC02121035[1]_high_thumb.jpg) |
![Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Endriartono Sutarto mengangkat kedua tangannya saat memberikan penjelasan kasus penembakan terhadap dua warga Amerika Serikat (AS) di kawasan Freeport, Papua, 31 Agustus 2002 silam pada rapat dengar pendapat dengan anggota Komisi I DPR RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, 4 Februari 2003. [TEMPO/ Rendra; K12A/182/2003; 20030225].](/hg/photostock/2004/12/17/s_K12A18201_high_thumb.jpg) |
|
|
| Jenderal Endriartono Sutarto
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|