Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pengamat: Embargo Peralatan Militer AS Didasarkan Tujuan Jangka Pendek
Selasa, 21 Desember 2004 | 14:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pendiri dan Ketua Lembaga Studi Kapasitas Nasional (LSKN) Hartojo Wignjowijoto mengatakan embargo militer yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia akan berakhir ketika tujuan jangka pendek AS telah tercapai.

Tujuan tersebut antara lain tercermin dalam gerakan anti terorisme yang selama ini didengungkan ke seluruh dunia.

Ia menambahkan, selama ini embargo dilakukan dengan alasan adanya pelanggaran terhadap hak asasi manusia di Indonesia. Tetapi, katanya, saat ini kondisinya telah berubah. Fokus AS bukan lagi kepada pelanggaran HAM dan militer, melainkan terhadap sumber daya alam tambang dan kelautan yang strategis. "Amerika itukan bangsa yang paling plin plan jadi ia berubah juga," kata Hartojo seusai menjadi pembicara dalam diskusi kajian Indonesia-Amerika di kampus Universitas Indonesia, Selasa (21/12).

Disisi lain, katanya, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam masih membutuhkan bantuan luar negeri. Dan itu, lanjutnya, dijadikan alat supaya Indonesia "nurut" kepada Amerika.

Ditambah lagi, ia menilai, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama ini masih terkesan pro-AS. Namun, ia mengingatkan saat ini banyak rakyat Indonesia yang kritis dan "melek" terhadap sepak terjang Amerika.

Kendati demikian, ketika ditanya tentang kemungkinan dicabutnya embargo tersebut, dia menolak berkomentar. "Saya bukan ahli itu," ucapnya mengakhiri pembicaraan.



Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Coordinator for Counterterrorism Department of State, Joseph Cofer Black di Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS), Jakarta, Jumat, 06 Februari 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040206] Duta Besar (Dubes) AS, Ralph L Boyce (kanan) mencoba mesin pemeriksa/detektor sidik jari yang diluncurkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di acara peragaan proses pemeriksaan visa biometrik di Kedutaan Besar (Kedubes) AS, Jakarta, Senin, 09 Februari 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040209]
Joseph Cofer Black
Ralph L Boyce
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Perwakilan AS: Indonesia Bukan Negara Teroris
Pengusaha AS Sambut Baik Reformasi Indonesia
Hidayat Nur Wahid: AS Jangan Lindungi Koruptor
16 WNI Masih Ditahan di AS
TNI Dan Angkatan Darat AS Bahas Pertukaran Informasi
Mer-C Akan Kirim Relawan Ke Irak
Ormas Islam Serukan Dukungan untuk Fallujah
Pemerintah Berharap Kerjasama Militer dengan AS Membaik
Presiden Bush Akan Bersikap Makin Keras Terhadap Indonesia
Ba'asyir: Kemenangan Bush Bencana Bagi AS
> selengkapnya...


Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Kepolisian Republik Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data