Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Bagi SBY, Kalla Ibarat Pedang Bermata Dua
Senin, 20 Desember 2004 | 17:29 WIB

TEMPO Interaktif, Sumedang: Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Eep Saefullah Fatah mengatakan terpilihnya Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menjadi Ketua Umum Golkar bisa menyulut persaingan serius dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jika persaingan tersebut tidak dikelola dengan baik, Jusuf Kalla bisa berhadapan dengan Susilo Bambang Yudhoyono di pentas Pemilihan Presiden 2009.

?Jadi judulnya pedang Jusuf Kalla bermata dua, di satu sisi menguntungkan SBY di sisi yang lain bisa memenggal SBY,? katanya. Dengan terpilihnya Kalla, kata Eep, Indonesia memiliki komposisi politik yang aneh yakni Ketua Umum Partai Golkar sebagai partai terbesar di parlemen dijabat Wakil Presiden dan Wakil Ketua Umum dijabat Ketua DPR.

Dalam jangka pendek, menurut Eep, terpilihnya Kalla tersebut membuat resistensi politik dari parlemen terhadap pemerintahan SBY menjadi tidak sekuat sebelumnya. Dalam jangka pendek hal ini menguntungkan Susilo Bambang Yudhoyono. Karena, katanya, kebijakan pemerintahan tidak akan direspon secara keras oleh perlawanan parlemen karena terjadi pelunakan dari sikap Partai Golkar.

?SBY diuntungkan, tetapi jangan lupa dibalik itu ada persoalan lain, karena Jusuf Kalla menjadi lebih kuat,? kata Eep. Posisi Kalla yang lebih kuat, menurut Eep, bisa menjadi ancaman serius bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalla saat ini telah menjadi calon kompetitor yang paling potensial bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Pemilihan Presiden 2009.

Eep yang ditemui usai menjadi pembicara dalam diskusi buku ?Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa? di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (20/12), mengaku tidak mengetahui komitmen Golkar pasca-Munas ke-7 di Denpasar. Tidak ada kesan dan semangat perubahan yang tegas terungkap dalam Munas.

Menurut Eep, terpilihnya Kalla akan mengubah konfigurasi Koalisi Kebangsaan karena Partai Golkar sebagai unsur penting dalam koalisi tersebut selain PDI Perjuangan dikendalikan kekuasaan pusatnya oleh seseorang yang justru berseberangan dengan koalisi itu. ?Tentu saja komposisi politik di dalam kolaisi berubah, ada peta yang berubah karena Jusuf Kalla jadi Ketua Umum Golkar,? katanya.

Pasca terpilihnya Kalla, Eep menduga akan terjadi dinamisasi di DPR sebab selama ini aktualisasi politik Koalisi Kebangsaan dilakukan melalui lembaga tersebut. Kendati demikian, Eep mengatakan, terpilihnya Kalla menjadi Ketua Umum tidak menjadikan kekuatan Partai Gokar bisa dengan mudah disetir olehnya sebab partai berlambang beringin tersebut merupakan entitas politik yang sudah jadi dan mapan.

Tidak mudah bagi Kalla untuk menggerakkan kekuatan di dalam Partai Golkar. Kalla, menurut Eep, akan menghadapi tiga otonomi. Yakni pertama otonomi dari elit partai di tingkat nasional seperti yang ditunjukkan Marzuki Darusman atau Fahmi Idris terhadap kepemimpinan Akbar Tandjung. ?Jusuf Kalla berpotensi menghadapi hal yang serupa dari orang atau elite yang berbeda,? katanya. Kedua, otonomi pengurus dan elit Partai Golkar di tingkat daerah yang berhadapan dengan pengurus pusat partai itu di bawah kepemimpinan Kalla. Ketiga, tambah Eep, otonomi konstituen Partai Golkar menghadapi Pemilu 2009 dan pemilihan kepala daerah sepanjang tahun sampai dengan pelaksanaan pemilu presiden.

Ahmad Fikri?Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Dua calon presiden (Capres) dari Partai Golkar, M Jusuf Kalla (kiri) dan Surya Paloh (kanan) dalam acara pembukaan Rapat Pimpinan (Rapim) ke-VII Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, 17 Oktober 2003. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20031017]. Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) M. Jusuf Kalla melambaikan tangan kepada wartawan (kameraman TV dan fotografer) setelah mengajukan permohonan penguduran diri dari Kabinet Gotong Royong kepada Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta, 19 April 2004. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20040419]
Jusuf Kalla dan Surya Paloh
M. Jusuf Kalla
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Granat Berkarat Tergeletak di Taman Hotel Hilton
Jusuf Kalla Ubah Peta Politik
Kalla : Koalisi Kebangsaan Adalah Masa Lalu
Akbar Akui Kekuatan Tim Kalla
Akbar : Fahmi Harus Direhabilitasi Dulu Sebelum Jadi Pengurus Golkar
Fahmi Minta Tidak Hanya Dirinya Yang Direhabilitasi Status Keanggotaannya
Fahmi Idris Bantah Bentuk Formatur Bayangan
Kubu Agung Laksono Khawatirkan Gerakan Formatur Bayangan
Kalla Janji Partai Golkar Jadi Penyeimbang Pemerintah
Surya Paloh: Masih Jauh untuk Maju Capres 2009
> selengkapnya...


Referensi

Akbar Tandjung: Saya Kecewa Ditinggalkan Teman
Wiranto: Yudhoyono Pernah Janji bahwa Kalla Tak Akan Maju
Akbar Gandeng Wiranto Hadapi Jusuf Kalla
Laporan Penelusuran Penyumbang “Bermasalah ”
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data