Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pertamina Naikan Harga Elpiji
Sabtu, 18 Desember 2004 | 18:32 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina (persero) secara resmi menaikkan harga jual LPJ (Liqiud Petroleum Gas/LPG/elpiji) menjadi Rp 4.250 per kilogram dari Rp3.000 per kilogram. Sementara harga elpiji dalam tabung 12 kilogram harganya menjadi Rp 51.000 per tabung. Khusus untuk Batam, harga elpiji naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.800 per kilogram.

Keputusan ini berlaku mulai Minggu (19/12) pukul 00.00 WIB. "Harga elpiji dinaikan sekitar 40 persen, dari situ Pertamina hanya mengambil keuntungan sekitar Rp 275 per kilogram," kata General Manager Gas Domestik Pertamina Achmad Faisal di Jakarta, Sabtu (18/12).

Selain elpiji, Pertamina juga menaikan harga bensin jenis Pertamax dan Pertamax Plus. Untuk pertamax menjadi Rp 4.000 per liter dari Rp 2.450. Sedangkan Pertamax Plus menjadi Rp 4.200 dari Rp 2.750 per liter. "Pertamax kami naikkan 62 persen, sedangkan Pertamax Plus sekitar 52 persen," kata Faisal.

Menurut Faisal ketiga produk non-BBM ini dinaikan agar perusahaan dapat menuai profit serta memberikan konstribusi keuntungan pada negara berupa deviden. Produk ini tidak lagi diatur oleh pemerintah dan menjadi komoditas komersil. "Alasan utama penyesuaian harga, diantaranya karena tingginya harga minyak dunia," kata Faisal.

Faisal mencontohkan, untuk produk Pertamax saja, Pertamina hanya bisa meraup keuntungan sekitar Rp 100 per liter. Faisal mengatakan perusahaan tidak ingin terlalu lama menanggung beban akibat lonjakan harga minyak. Di tahun depan, Faisal berharap tidak perlu menaikkan harga lagi, asal "harga minyak dunia bisa turun."

Menurut Faisal, bisnis elpiji merupakan bisnis yang tidak diatur dalam tata niaga. Artinya, tidak ada monopoli dan siapapun bisa bermain di segmen ini. maka menurut Faisal, kenaikan harga elpiji ini diharapkan bisa memberi peluang pada investor lain agar mau masuk ke bisnis ini dan bisa memberikan keuntungan yang wajar bagi produsen.

Alasan lain menurut Faisal adalah, kendati elpiji merupakan bahan bakar alternatif, namun konsumennya sebagian besar didominasi oleh rumah tangga dari kelas menengah ke atas (69 persen), hotel berbintang dan restoran mewah (13 persen) dan industri (18 persen). "Karena itu tidak adil kalau kelompok ini mendapat subsidi dari Pertamina," kata Faisal.

Harga pokok elpiji menurut Faisal, ditentukan berdasarkan posisi harga sesuai sumber produksi elpiji. Komponen itu terdiri dari produksi kilang Pertamina (73 persen, setara US$ 298 per metrik ton), produksi dari para kontraktor bagi hasil sebesar (17 persen atau US$ 352 per metrik ton) dan impor (10 persen serata US$ 383 per metrik ton). Harga pokok produksi elpiji pertamina menurut Faisal, jauh lebih rendah dari harga internasional berdasarkan crudep (cp) aramco dan jauh lebih rendah dari biaya pokok elpiji yang dikeluarkan kontraktor. Maka menurut Faisal, itu berarti pertamina lebih efisien dibanding kedua pemasok elpiji lain tadi.

Selain itu, Pertamina berjanji menjamin pelayanan distribusi elpiji untuk lebi baik lagi. Salah satunya menurut Faisal adalah lewat sistem kerjasama distribusi outlet. Tujuannya, agar produk elpiji bisa sampai ke konsumen dengan jaminan ketepatan dan penyeragaman harga jual ritel sesuai harga jual Pertamina.

Sebagai catatan, konsumsi elpiji telah mengalami peningkatan dari 83 ribu metrik ton per bulan pada Tahun 2003, menjadi 100 ribu metrik ton pada 2004. Biar melonjak tinggi, angka konsumsi per kapita penduduk Indonesia masih jauh lebih rendah jika dibanding Malaysia (5 persen dari jumlah penduduk) dan Thailand (2 persen dari jumlah penduduk). Konsumsi di Indonesia tadi setara dengan setengah persen dari jumlah penduduk.

Sedangkan kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Plus, menurut Faisal, sama sekali tidak terkait dengan kelanggakaan yang terjadi pekan lalu. "Kelangkaan disebabkan masalah teknis," kata Faisal. Menurut Direktur Pemasaran Pertamina, Arie Sumarno, kelangkaan terjadi karena terjadi keterlambatan kedatangan beberapa komponen untuk pembuatan Pertamax yang diimpor dari Singapura. Kelangkaan ini bisa diatasi tiga hari kemudian.

Dara Meutia Uning

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Pengamat perminyakan DR. Kurtubi di kantor Koran TEMPO, Jakarta, 25 Mei 2004. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20040525] Gedung kantor pusat PT Pertamina di Jl. Merdeka Timur Jakarta, 14 Maret 2004. [TEMPO/ Purwanta BS; K20A/360/2004; 20040314].
Kurtubi
Gedung Pertamina Pusat
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Sesalkan Terseretnya Beberapa BUMN dalam Kasus Bank Global
Puluhan Kilometer Pipa Minyak, Kritis
Pertamina Akan Kenakan Sanksi Direksi PSI
DPRD Bekasi Datangi Kantor Pertamina
Mahasiswa Makassar Sandera Mobil Tangki Tolak Rencana Kenaikan BBM
Pengamat: Pemerintah Harus Cegah Inflasi Tinggi Akibat Kenaikan BBM
Pertamina Diminta Seimbangkan Bisnis Hulu dan Hilir
Widya Purnama: Perundingan Kembali Dengan Exxon Berbasis Bisnis
YLKI: Kenaikan BBM 40 Persen Memberatkan Rakyat
Di Lombok Harga Minyak Tanah Tembus Rp 1250
> selengkapnya...


Referensi

Kasus Korupsi Prioritas Kerja 100 Hari Polri
UU RI No. 22 Tahun 2001 Tentang Migas

Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data