Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Slamet Effendy Yusuf Masih Berniat Maju
Jum'at, 17 Desember 2004 | 20:21 WIB

TEMPO Interaktif, Nusa Dua: Meski tak satupun DPD I menyebut namanya dalam pandangan umum DPD terhadap Laporan Pertanggungjawaban DPP, Slamet Effendy Yusuf tetap berniat maju ke pencalonan Ketua Umum DPP Golkar. ?Peluang saya masih terbuka, suara-suara DPD II khan belum terungkap, suara DPD I bukan cermin suara keseluruhan,? katanya Jum'at (17/12).

Salah-satu motivasinya untuk terus maju dalam pencalonan adalah karena perlunya muncul calon alternatif di tengah persaingan dua kubu, yakni kubu Akbar -Wiranto dan
Kalla-Agung. ?Kini ada dua gajah yang sedang bertempur dan ada dua blok di Golkar, karena itu harus ada yang di tengah,? katanya. Ia khawatir bila terjadi benturan yang
terlalu keras antara dua kubu tersebut akan berakibat buruk bagi masa depan Golkar.

Apalagi bila cara-cara yang dilakukan dalam memenangkan persaingan menggunakan cara-cara yang sangat praktis dan pragmatis. Ia sendiri menybeut hanya membawa idealisme untuk maju ke pencalonan. ?Kalau ada DPD yang datang dan menanyakan soal gizi saya jawab terus terang bahwa saya tak menyediakan,? katanya.

Slamet juga menyoroti aliansi-aliansi yang timbul saat ini dimana Akbar beraliansi dengan Wiranto. Menurutnya, aliansi itu mestinya tidak boleh aliansi taktis dan harus tulus untuk kepentingan Golkar. Sebab, aliansi taktis hanya akan menimbulkan masalah baru bagi Golkar di masa depan. ?Terus terang, Wiranto dan Akbar bersatu itu sesuatu yang mengejutkan, karena mereka seperti macan dengan kucing yang enggak bisa akur, meskipun saya syukuri, tapi saya pertanyakan ada apa dibalik itu,? sebutnya.

Dia juga mengingatkan agar aliansi taktis tidak sampai ke pembagian jabatan diluar forum Munas. ?Sekarang yang dipilih hanya Ketua Umum saja. Dan dia akan dibantu oleh 4 orang Formatur , maka kalau ada yang bilang sia A jadi Dewan Penasehat , ini jadi Sekjen itu adalah pernyataan yang tergesa-gesa,? katanya. Hal itu menunjukkan, aliansi mejadi sangat taktis.

Bagi dia, bila ada penetapan terlebih dahulu mengenai siapa yang menjabat, berarti telah mengabaikan fungsi formatur. Bahkan, tegas dia, untuk posisi Ketua Dewan Penasehat mestinya bersama pengusrus harian. ?Kecuali kalau AD ART diubah,?katanya.

Slamet juga menyatakan ketidaksetujuannya, dengan rencana memperkuat posisi Dewan Penasehat. Sebab hal itu akan menimbulkan dualisme pada kepemimpinan Golkar. "Kalau Dewan Penasehat menjadi kuat dan apalagi nanti dipilih di Munas , maka Ketua Umum menjadi bukan satu-satunya nahkoda Golkar dan ini hal yang buruk bagi partai karena posisi Dewan Penasehat menjadi lembaga seperti di masa lalu Orba , ini setback,? katanya. Sebab Golkar kembali ke masa lalu dimana lembaga Dewan Penasehat menjadi kekuatan politik dalam tubuh Golkar.

Rofiqi Hasan?Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Syarwan Hamid pada pembukaan Rapat Pimpinan (Rapim) VI Partai Golkar di Istora Bung Karno, Jakarta, 28 April 2003. [TEMPO/ Bismo Agung; K14A/142/2003; 20030508]. Fahmi Idris (kiri) dan Menteri Perhubungan, Agum Gumelar pada Rapat Pimpinan (Rapim) VI Partai Golkar di Istora Bung Karno, Jakarta, 28 April 2003. [TEMPO/ Bismo Agung; K14A/142/2003; 20030508].
Syarwan Hamid
Fahmi Idris dan Agum Gumelar
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Wiranto Merapat Ke Kubu Akbar Tandjung
LPJ Akbar Tandjung Diterima
Akbar Tawari Rekonsiliasi dengan Fahmi Idris
Akbar Tandjung dan Wiranto Buat Kesepakatan
Jatah Kampanye Calon Ketua Umum 15 Menit
Tim Akbar Minta Marwah Jadi Sekjen
Munas Sempat Tegang
Delapan DPD Sebut Jusuf Kalla Calon Ketua Umum
Kubu Kalla Klaim Didukung Mayoritas Pengurus Kabupaten/Kota
Pencalonan Yusuf Kalla Disesalkan Sejumlah Kalangan
> selengkapnya...


Referensi

Wiranto: Yudhoyono Pernah Janji bahwa Kalla Tak Akan Maju
Akbar Gandeng Wiranto Hadapi Jusuf Kalla
Sebuah Munas Setelah Lengsernya Soeharto
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
> selengkapnya...

Website

Akbar Tandjung
Situs Wiranto
Partai Keadilan
Partai Golkar


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data