|
Nasional
Akbar Tawari Rekonsiliasi dengan Fahmi Idris
Jum'at, 17 Desember 2004 | 19:38 WIB
TEMPO Interaktif, Nusa Dua: Akbar Tanjung sudah melakukan rekonsiliasi dengan Fahmi Idris dan Marzuki Darusman yang dipecat dari kepengurusan Partai Golkar. ?Dalam waktu dekat ini, masalah saya dengan Pak Fahmi dan Pak Marzuki akan selesai. Kami sudah melakukan pembicaraan. Tunggulah,? kata Akbar ketika menjawab pemandangan umum DPD I Golkar di acara Munas Golkar, Jumat (17/12). .
Akbar menceritakan bahwa Fahmi Idris bersama dirinya adalah sama-sama aktivis yang tergabung dalam Laskar Angkatan 66. Mereka berdua, kata Akbar, sama-sama berjuang
untuk melawan PKI. Akbar juga mengisahkan dirinya dan Fahmi sama-sama aktivis HMI dan juga berasal dari Universitas Indonesia. Akbar berlatar belakang Fakultas
Teknik sementara Fahmi Idris dari Fakultas Ekonomi.
Demikian juga, kata Akbar, dirinya dan Marzuki Darusman juga bersama-sama berjuang untuk ikut membesarkan Golkar. Keduanya pernah sama-sama aktif mendirikan KNPI, dan berkunjung ke daerah-daerah untuk membentuk kepengurusan KNPI di tingkat daerah. ?Jadi, saya pribadi tidak ada persoalan dengan Pak Fahmi maupun Pak Marzuki. Tapi, demi menegakkan konstitusi partai, keputusan pemecatan itu kita ambil,? katanya.
Di depan peserta Munas Golkar di Bali International Convention Centre, Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Akbar juga menjelaskan tentang keberhasilan-keberhasilan Koalisi Kebangsaan. Meski gagal dalam pemilihan presiden, kata dia, Koalisi Kebangsaan telah berhasil dalam membangun sistem perpolitikan yang sehat.
Dengan enteng, ia menyentil Agung Laksono yang kini berseberangan dengan Akbar Tandjung karena menjagokan Jusuf Kalla. ?Agung Laksono itu jadi ketua DPR kan berkat Koalisi Kebangsaan juga,? katanya. Agung, yang saat itu duduk di atas panggung
bersama seluruh pengurus DPP Partai Golkar 1999-2004 hanya bisa tersenyum tersipu-sipu. Pernyataan Akbar ini pun mengundang tepukan riuh dari peserta Munas yang memenuhi ruang konferensi.
Dengan lugas, Akbar Tandjung menyebutkan kini dirinya dan Agung berada dalam posisi berseberangan dalam pencalonan ketua umum. ?Kalau sekarang Agung Laksono tidak
berada di kita, orang memang bisa berubah setiap saat,? katanya yang kembali disambut tepukan gemuruh peserta.
Akbar juga menceritakan keberhasilan Koalisi Kebangsaan dalam menjadikan Ade Supriyatna sebagai Ketua DPRD DKI Jakarta. Padahal, suara Partai Golkar di DKI hanya
memiliki 7 kursi. Sementara, PKS memiliki 18, dan Partai Demokrat 16 kursi.
Sunudyantoro/Rofiqi Hasan?Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Syarwan Hamid pada pembukaan Rapat Pimpinan (Rapim) VI Partai Golkar di Istora Bung Karno, Jakarta, 28 April 2003. [TEMPO/ Bismo Agung; K14A/142/2003; 20030508].](/hg/photostock/2004/12/14/s_K14A14202_high_thumb.jpg) |
![Fahmi Idris (kiri) dan Menteri Perhubungan, Agum Gumelar pada Rapat Pimpinan (Rapim) VI Partai Golkar di Istora Bung Karno, Jakarta, 28 April 2003. [TEMPO/ Bismo Agung; K14A/142/2003; 20030508].](/hg/photostock/2004/12/14/s_K14A14201_high_thumb.jpg) |
|
|
| Fahmi Idris dan Agum Gumelar
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|