Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pencalonan Yusuf Kalla Disesalkan Sejumlah Kalangan
Jum'at, 17 Desember 2004 | 05:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum Lembaga Kajian Demokrasi (LkaDe) Sukowaluyo Mintoraharjo mengatakan, pencalonan Jusuf Kalla sebagai Ketua Partai Golkar antiklimaks dari proses demokratisasi di tubuh partai itu.

Menurut dia, mestinya Jusuf Kalla yang kini memangku jabatan Wakil Presiden tidak mengulang kesalahan Megawati Soekarnoputri. Mantan Persiden RI ini selain merangkap jabatan eksekutif sekaligus petinggi partai.
Akibatnya, "Megawati gagal dalam kedua institusi yang dipimpin," ujar dia kepada Tempo di kediamannya di Pejaten Jakarta Selatan, Kamis (16/12) malam.

Seharusnya, kata Sukowaluyo, Jusuf berkonsentrasi pada jabatannya sebagai Wakil Presiden. "Menurut saya, pencalonan Jusuf Kalla adalah pikiran gila," kata Suko dengan nada meninggi. Bila Jusuf Kalla berhasil menjadi ketua partai, maka dipastikannya akan terjadi preseden buruk bagi alam demokrasi Indonesia.

Preseden yang dia maksud antara lain dapat mengarah pada sistem otoritarian, yang bisa mengukuhkan kekuasaan eksekutif kepada parlemen. Golkar menguasai jumlah kursi cukup besar di parlemen. "Hati-hati dengan karakter kekuasaan yang cenderung korup (tends to corrupts)," katanya.

Sesepuh yang juga pendiri Partai Golkar Suhardiman menilai Wakil Presiden Jusuf Kalla hanya akan menjadikan Golkar sebagai alat politik pribadi pada Pemilu 2009. “Apalagi tujuannya kalau bukan untuk pencalonan Presiden dan bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009 nanti,” kata Suhardiman di Sekretariat Bersama Soksi, Jalan Teluk Betung, Jakarta.

Secara politis, ujar pria yang kemarin genap berusia 80 tahun, Presiden Yudhoyono akan dirugikan jika Jusuf Kalla bebar-benar terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Jusuf Kalla akan menjadi musuh dalam selimut yang setiap saat bisa mengancam posisi politik dan popularitas Presiden Yudhoyono.

Dikatakan Suhardiman, secara langsung atau tidak Presiden Yudhoyono akan kesulitan jika Jusuf Kalla menang dalam perebutan suara dengan Akbar Tandjung. “Sebaliknya Golkar akan jadi partainya pemerintah yang tidak mandiri,” tutur dia.

Suhardiman mengingatkan Akbar Tanjung jika terpilih untuk tidak hanya mengakomodasi kekuatan Himpunan Mahasiswa Islam dalam kepegurusan. "Harusnnya HMI plus. Plusnya yakni unsur Soksi, Kosgoro dan MKGR," ucapnya.

Sementara itu, suasana Musyawarah Nasional Partai Golkar di Bali, Sekretaris Jenderal Demisioner DPP Partai Golkar Budi Harsono mengungkapkan, syarat pencalonan ketua umum salah satunya adalah mereka yang pernah menjadi pengurus selama satu periode atau lima tahun. "Atau pernah jadi pengurus DPD I selama satu periode. Selain itu yang bersangkutan harus menjadi kader selama 10 tahun," ujarnya.

Dalam persyaratan pencalonan ketua umum tersebut, menurutnya, peserta munas menyepakati bahwa si calon tidak pernah keluar dari keanggotaan Partai Golkar. Namun persyaratan ini sempat menjadi perdebatan dalam pembahasan tata tertib munas.

Menurut salah seorang kandidat calon ketua umum, Marwah Daud Ibrahim, ada beberapa DPD yang masih belum bulat menyepakatinya. "Persyaratan ini masih tampaknya masih belum final disepakati. Jika persyaratan tersebut memang sudah seperti itu, maka ada kandidat yang terganjal proses pencalonannya, diantaranya Wiranto," ujarnya kepada wartawan di tempat terpisah.

Raden Rahmadi/Indra Darmawan/Ecep S Yasa

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Pengunjung memadati Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Minggu, 30 November 2003.  [TEMPO/ Santirta M; K19A/442/2003; 20031130]. Wisatawan domestik menikmati keindahan Pantai Anyer dengan latar mercusuar, Banten, 30 November 2003. [TEMPO/ Arie Basuki; K19A/496/2004; 20040126].
Taman Impian Jaya Ancol
Pantai Anyer
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Australia Harus Cabut Tuduhannya Jika Ancaman Bom Tak Terbukti
Jepang Akan Bantu Perangi Perompak di Selat Malaka
Calon Ketua DPP Golkar Tak Boleh Terlibat Partai Lain
Akbar Tandjung: Saya Didukung Prabowo Subianto
Hikam: Pencalonan Kalla Ganggu Netralitas Pemerintahan
Jusuf Kalla: Dukungan Daerah Solid
Marwah Daud: Kalla-Agung Bisa Kecilkan DPR
Baramuli Minta Kalla Ubah Strategi
Akbar Tandjung Capai Kesamaan Pandang dengan Wiranto
Tidak Hadir di Munas, Kalla Tutup Acara di Istiqlal
> selengkapnya...


Referensi

Wiranto: Yudhoyono Pernah Janji bahwa Kalla Tak Akan Maju
Akbar Gandeng Wiranto Hadapi Jusuf Kalla
Sebuah Munas Setelah Lengsernya Soeharto
> selengkapnya...

Website

PT Garuda Indonesia
Departemen Pertahanan
Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI)


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [5]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data