Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Korban Gusuran Kampung Cibabi Mengadu ke Komnas HAM
Kamis, 16 Desember 2004 | 12:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Warga Kampung Cibabi, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi mendesak Komnas HAM menangani pengusiran tujuh ribu warga dari tempat tinggal mereka. Mereka juga meminta Komnas HAM membentuk tim investigasi guna mengusut tuntas kasus penggusuran ini.

"Saya ingin pelaku penggusuran terhadap kampung kami diseret ke Pengadilan," kata Surma, warga Kampung Cibabi korban penggusuran kepada TEMPO kamis 16/12 di Komnas HAM, Jakarta. Menurutnya, penggusuran di kampung tersebut telah menyebabkan 58 orang meninggal, dua orang bunuh diri, 24 orang hilang ingatan, 21 orang dipenjara dan tujuh ribu pemukiman hangus.

Penggusuran yang terjadi 24 April 2002 berawal dari tuduhan warga kampung tersebut telah melakukan penjarahan pohon jati di hutan lindung. Aparat keamanan menurut Surma kemudian mengusir seluruh warga dan tidak memberi kesempatan pada warga untuk membawa harta bendanya. Surma mengaku, kerugian yang ia derita mencapai Rp 90 Juta akibat pengusiran itu.

Menurut Surma, awal mulanya warga menempati Cibabi di sekitar tahun 1999. Disana mereka menempati lahan bekas perkebunan kelapa milik keluarga GTO Fanber. Seiring dengan kerusakan hutan lindung yang ada di sekitar perkampungan, masyarakat setempat disalahkan oleh petugas kehutanan. "Padahal, kami yang warga asli tidak pernah melakukan pencurian kayu," kata Surma.

Sutarto

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Anak kecil berdiri di antara jeruji pagar saat protes korban penggusuran warga Tanjung Duren menuntut tempat penampungan sementara yang layak untuk ditempati di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2003. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20031029]. Beberapa murid dengan jilbab di Sekolah Dasar (SD) darurat  Kartini yang sekolahnya digusur petugas Trantib DKI Jakarta belajar dengan memakai mukena di kolong jalan tol Rawa Bebek, Jakarta Barat, 9 November 2003. [TEMPO/ Arie Basuki; K20A/036/2003; 20050120].
Protes Korban Penggusuran Tanjung Duren
Sekolah Darurat Kartini
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penculikan Anak Mulai Jadi Tren di Ibu Kota
Ratusan Bangunan Liar Akan Digusur untuk Rumah Mewah
Warga Lorong W Barat Tanjung Priok Adakan Istiqosah
Jepang Ikut Memiskinkan Warga Koto Panjang
Makam Keramat Al-Haddad Tak Termasuk Dibebaskan Pelindo
Ketua Pansus DPRD : Pagar Seng Harus Dibongkar
Warga Kemayoran Datangi Komnas HAM
Pedagang Terganggu Pagar Seng dan Pembangunan Blok A
DPR RI Akan Panggil Gubernur Sutiyoso
Ahli Waris Tolak Rencana JICT Gusur Makam Keramat
> selengkapnya...


Referensi

PENJELASAN KHUSUS SEKTOR PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data