|
Metro
Dilarang Merokok, Sudharsono Nekad Gantung Diri
Rabu, 15 Desember 2004 | 11:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Keributan soal problem ekonomi pasangan suami istri, Sudharsono, 50 tahun dan Sofia, 4 tahun warga Desa Kalijaya, Cibitung Kabupaten Bekasi berbuntut ironis. Selasa (14/12) malam, Sudarsono ditemukan tewas dengan leher tergantung tali tambang di dahan pohon, tepian Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL).
Kejadian itu sempat membuat warga sekitar tidak percaya. Pasalnya, selama ini pasangan suami istri yang dikaruniani dua anak, Hasanah ( 20 tahun) dan Masnia (14 tahun kelas dua SMP Negeri di Kota Bekasi) itu dikenal akur. Korban, ditemukan pertama kali oleh Alam, yang tinggal berdekatan dengan korban.
Alam yang ditemui di Rumah Sakit Karya Medika Cibitung mengungkakan, beberapa saat sebelum ditemukan, sejumlah warga sempat melihat Sudarsono pergi ke belakang rumah menuju ladang. Waktu itu, tak ada prasangka buruk
Sudarsono akan bunuh diri.
Namun, petang hari, ketika Alam hendak mengambil kambing piaraan yang dilepas di sekitar sungai CBL agar mencari makan rerumputan, Alam dikejutkan adanya sesosok manusia yang seolah-olah mendekap batang pohon. "Saya sempat
mikir, ada maling sembunyi di atas pohon. Ternyata Sudharsono," katanya.
Rasa curiga Alam kian menjadi, ketika dipanggil-panggil tetapi tidak menyahut. Lantas dia mulai mengendap-endap mendekati tempat dimana Sudarsono menggantung. Alam kemudian baru sadar setelah mendekat. Tubuh Sudharsono dalam keadaan tergantung dengan tambang menjerat leher.
Setelah diperiksa, korban sudah tidak berdaya di atas pohon, tepian sungai yang warnanya menghitam itu. Setelah itu, Alam segera kembali dan mengabarkan penemuan itu. Karena korban sudah tidak bergerak-gerak, warga kemudian berinisiatif melepaskan tali yang mengikat erat leher korban. Baru kemudian melapor polisi.
Polisi datang dan melakukan identifikasi terhadap tubuh korban. Hasilnya, korban diyakini bunuh diri gantung diri. Ciri-ciri yang menguatkan pemeriksaan itu, antara lain seluruh lubah yang terdapat di tubuh korban
mengeluarkan kotoran. Selain itu lidah korban juga menjulur keluar.
Kemudian, jenazah Sudharsono yang ditemani anak dan istri dan beberapa tetangga mengirmkan Sudharsono ke kamar mayat Rumah Sakit Medika Cibitung. Sejauh ini, motif kenekatan Sudharsono terjadi karena kesulitan ekonomi yang menyebabkan cekcok mulut dengan istri.
Percekcokan mulut itu, menurut sejumlah warga yang mengetahui sebelum kejadian itu, istri, Sofia, sempat menginggung-nyinggung soal kebiasan boros Sudharsono dengan mengambil barang dagangan, rokok. Sofia menasehati supaya Sudharsono berhenti merokok karena, merokok itu pengeluaran paling besar dalam keluarga itu.
"Mereka cekcok, istrinya ngelarang Sudharsono supaya tidak merokok terus," kata Alam yang disampingnya ada Sofia di rumah sakit. Sofia dan kedua anaknya, tidak mau memberikan komentar atas peristiwa tragis yang menimpa
salah satu anggota keluarga yang tergolong miskin itu.
Sofia sehari-hari mengurusi warung rokok dan minuman mineral di depan rumah yang terpencil itu. Sedangkan, setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) awal 2004 lalu, Sudharsono hanya menjadi pengangguran yang sesekali menjadi kuli bangunan. Sementara, satu anak masih membutuhkan biaya untuk meneruskan sekolah.
Kepala Unit Reserse dan Kriminal Kepolisian Cibitung, Kiswan membenarkan terjadinya bunuh diri. Kepolisian tidak menemukan adanya tindak penganiayaan di tubuh korban. "Tidak ada unsur penganiayaan, di tubuhnya tidak ada tanda-tanda penganiayaan, ini murni bunuh diri karena faktor ekonomi," katanya.
Peristiwa serupa pada Jumat (10/12) sekitar pukul 23.30 WIB juga terjadi. Penjaga Villa Cibening Indah, Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, Deni Teri Yulianto, 20 tahun, ditemukan tewas dalam keadaan menggantung di balik pintu gudang. Penyebanya belum disimpulkan polisi.
Dua hari sebelumnya Rabu (8/12) sekitar pukul 19.15 WB, Warga Kampung Rawa Rokok Kelurahan Bojong Rawa Lumbu Kota Bekasi digemparkan ditemukannya Sri Muryani, 24 tahun tewas dengan leher terjerat tali rafia merah yang terlilit pada kayu kaso atap kamar kontrakan. Korban nekat mati karena tidak akur dengan suaminya.
Sebelumnya polisi kebingungan mencari jawaban kematian Sri. Polisi sempat menduga, Sri mati karena sengaja dicekik dan digantung untuk menghilangkan jejak. Namun, akhirnya polisi menyimpulkan Sri memang tewas karena bunuh diri setelah bermasalah dengan suaminya yang memiki istri lain.
Siswanto-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|