Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Indonesia Perlu Siap Hadapi Globalisasi Ketiga
Senin, 13 Desember 2004 | 14:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia diharapkan bisa menyiapkan masyarakatnya guna menghadapi globalisasi ketiga, yaitu globalisasi budaya.

Menurut Kepala Pusat Kajian Center Of National Research Scientific/CNRS (LIPI-nya Prancis) Diminique Wolton, dunia dewasa ini akan masuki perkembangan baru globalisasi.

Setelah globalisasi politik dan globalisasi ekonomi umat manusia memasuki globalisasi budaya. Globalisasi politik dimulai dengan terbentuknya PBB. Sedangkan globalisasi ekonomi mulai sejak perdagangan bebas dalam kurun waktu antara tahun 70-an.

Dari ketiga globalisasi tersebut, lanjutnya, sektor budaya yang paling sulit dilakukan. Sedang yang paling mudah adalah globalisasi ekonomi. "Walaupun dalam globalisasi ini membuka jurang yang lebar antara negara-negara utara dan selatan," ujarnya di Jakarta, Senin (13/12).

Kesulitan terlaksananya globalisasi budaya, katanya, lantaran begitu banyaknya keanekaragaman di dunia. Namun, dia menegaskan, pemahaman terhadap proses ini bisa menstabilkan situasi budaya dunia yang mengalami ketidakstabilan dengan berlangsungnya globalisasi politik dan ekonomi.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya generasi ketiga ini adalah kecepatan info dan intensitas komunikasi yang makin tinggi. "Walaupun ada ambiguitas yang melekat pada globalisasi budaya, yaitu sangat terbukanya dunia dan di sisi lain ada daya untuk mempertahankan diri," katanya.

Ia tidak sependapat dengan tesis Samuel Hutington yang menyatakan bahwa masa depan dunia akan diwarnai dengan peran peradaban. Padahal, lanjut Wolton, dengan kecepatan informasi dan komunikasi, globalisasi politik dan ekonomi hanya membuat dekatnya jarak territorial. Sedangkan globalisasi budaya, memperlihatkan hal yang lebih yaitu, mengetahui perbedaan satu sama lain.

Kajian CNRS menyebutkan, dengan masuknya informasi budaya dunia akan mengakibatkan penguatan budaya lokal disamping pertemuan budaya yang kian sering terjadi. "Masing-masing negara ingin berpartisipasi dan mengambil keuntungan, namun tumbuh juga keinginan untuk mempertahankan identitas."

Bagi Indonesia ada hal positif yang telah dimiliki. Pertama, jumlah penduduknya yang sangat besar. Ini bisa membuat kekuatan kebudayaan lokal. Kedua, adanya bahasa yang digunakan secara bersama.
Ketiga, Indonesia mempunyai warisan budaya yang besar, seperti Budha, Islam dan barat.
Diharapkan, kata dia, berbekal pada hal tersebut Indonesia bisa lebih baik memasuki globalisasi budaya ini. (muhamad nafi)


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data