Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

TNI 'Pelajari' Suap Pembelian Tank Scorpion
Sabtu, 11 Desember 2004 | 14:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto kemarin mengaku akan mempelajari dugaan suap dalam pembelian tank Scorpion pada 1994. Dalam kasus ini, Alvis, produsen tank canggih dari Inggris itu, dituduh memberi uang pelicin kepada putri mantan presiden Soeharto, Nyonya Siti Hardijanti Rukmana (Tutut).

Sutarto mengaku belum mengetahui masalah ini. "Zaman tahun 1990-an itu saya masih kroco, jadi belum tahu. Akan saya dalami dulu (masalahnya)," katanya. Waktu itu, Sutarto menjadi Asisten Operasi Kodam Jaya.
Ihwal dugaan suap itu dilansir harian Inggris The Guardian dalam lima hari terakhir. Mengutip dokumen kesaksian eksekutif Alvis, Guardian menulis, perusahaan itu menyetorkan 16,5 juta pound sterling (sekarang sekitar Rp 291 miliar) kepada Tutut. Ini dilakukan untuk memuluskan transaksi penjualan 100 unit Scorpion, salah satu produk Alvis, senilai 160 juta pound sterling (sekarang sekitar Rp 2,8 triliun).

"Madame Tutut," demikian eksekutif Alvis, Nick Prest, memanggil mantan Menteri Sosial itu, datang ke London pertama kali pada Februari 1994. Ia bertemu dengan Prest dan dua petinggi Alvis, Trevor Harrison dan Lionel Steele. Tutut mengaku mewakili perusahaan Global Select. "Tutut mendorong kami menjadikan dia dan rekan bisnisnya sebagai perusahaan konsultan (dalam penjualan)," kata Prest.

Alvis menandatangani perjanjian dengan Tutut pada 4 Mei 1994 dan menjanjikan komisi untuk putri tertua Soeharto itu atas "bantuannya pada penjualan tank Scorpion". Tutut kembali datang ke Inggris dua bulan kemudian (Juli 1994) dan mengunjungi pabrik Alvis di Coventry. Ia mengajak Letnan Jenderal Hartono dan Letnan Jenderal H.B.L. Mantiri untuk "meyakinkan militer agar membeli Scorpion".
Rini Soewondho, pemilik PT Surya Kepanjen, mitra lokal Alvis di Jakarta, bersaksi, pencairan anggaran saat itu hanya bisa dilakukan jika didukung Presiden Soeharto. Untuk itu, kata dia, biasanya diperlukan dukungan dari lingkaran dalam Cendana.

Akhirnya, Alvis mendapatkan kontrak pembelian 50 tank Scorpion dengan harga 1,6 juta pound per unit. Pembelian pertama ini disetujui pemerintah Inggris setelah berbagai upaya lobi dilakukan Alvis. Izin ekspor keluar pada Maret 1995.

Alvis kembali mendekati Tutut untuk mendapatkan kontrak penjualan yang lebih besar. Kesepakatan pembayarannya ditandatangani dengan perusahaan baru Tutut, Basque, yang berbasis di luar negeri.

Muncul masalah baru karena Korea menawarkan barang yang sama dengan termin kredit yang sangat mudah dan murah. "Kami tidak mungkin memenangi persaingan dengan Korea.... Madame Tutut adalah cara untuk kembali memenanginya," demikian dokumen itu. Meski tank pertama yang dibeli tidak berfungsi normal, Indonesia bersedia mengeluarkan dana 80 juta pound sterling tambahan untuk membeli 50 Scorpion baru.

Dokumen itu juga menunjukkan, penyuapan dilakukan Alvis di setiap tingkatan untuk memastikan mulusnya penjualan. Rini Soewondho, misalnya, bersaksi, "Menteri Pertahanan memerintahkan agar setiap pembelian peralatan pertahanan dari perusahaan asing harus melalui agen milik pensiunan tentara atau keluarganya."

Rini juga bersaksi bahwa ia dan saudaranya, Didie, putra Brigjen Soewondho, pun menjaga kedekatan dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Sahala. Namun, sang Jenderal ternyata meminta bagian tersendiri dengan melibatkan PT Truba yang disebutkan "perusahaan milik ABRI".

Tutut, melalui pengacaranya, Elsa Syarief, menolak berkomentar. Menurut Elsa, tuduhan itu dikeluarkan oleh pihak-pihak yang bersengketa di pengadilan. "Jadi," katanya, "itu tidak ada kaitannya dengan Mbak (Tutut)."
Baik Jenderal Hartono, Mantiri, maupun Rini Soewondho belum bisa dimintai konfirmasi. Sumber Tempo yang dekat dengan Tutut menyatakan, Hartono dan mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn.) Faisal Tanjung lebih mengetahui masalah ini.

Menurut sumber, TNI AD memilih Scorpion karena perusahaan pemasoknya gencar mendekati Hartono. Padahal Faisal lebih suka jika Angkatan Darat menggunakan tank Korea.

l dimas /bina b/istiqomatul/budi s


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Suap 16,5 Juta Poundsterling dalam Pembelian Tank Scorpion oleh Indonesia
Tentara Penyerang Brimob di Aceh Diperiksa Polisi Militer
Strategi KSAL Kent Sondakh Untuk Pertahanan Kedaulatan Negara
TNI AD Butuh Alat Komunikasi dan Radar
Anggota Lan AL Mataram Tewas Tertembak Komandanya Sendiri
Menteri Juwono Usulkan Amandemen Dua Undang-Undang
Bank Mandiri Labuhan Batu Dijarah, Satu Polisi Tewas.
SBY Ingatkan Pejabat Kejasaan Agung
TNI Angkatan Laut Dapat Hibah Tujuh Kapal
TNI AL Resmikan Tiga Kapal Perang
> selengkapnya...


Referensi

Sejarah TNI AU
Kasus-kasus Korupsi di Indonesia
Program-program Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh Memberantas KKN
ICW : Buka Kembali Kasus Korupsi yang Di SP3
Keppres RI No. 22 Tahun 2001 Tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat
UU RI No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari KKN
UU RI nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara
> selengkapnya...

Website

Departemen Pertahanan
Situs Resmi Komisi Pemberantasan Korupsi


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data