Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Perwakilan AS: Indonesia Bukan Negara Teroris
Jum'at, 10 Desember 2004 | 19:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Asisten Khusus untuk Hubungan Luar Negeri Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Susan Jacobs membantah persepsi masyarakat Indonesia yang menganggap pemerintah AS telah memasukkan Indonesia sebagai negara teroris. Hal itu dikatakan Jacobs dalam sosialisasi prosedur pembuatan visa ke Amerika Serikat (AS) di Kedutaan Besar AS, Jumat (10/12).

Menurut Jacobs, kebijakan perubahan prosedur pembuatan visa ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi berlaku bagi seluruh warga negara asing di seluruh dunia yang ingin masuk ke AS. "Kebijakan ini tidak ada kaitannya dengan persepsi tersebut. Kita menganggap Indonesia sebagai sahabat dan kita senang berada disini," ungkapnya.

Sejak 2002, menurut Jacobs, perohonan visa pelajar Indonesia untuk belajar di AS menurun tajam. "Tetapi enam bulan terakhir mulai meningkat," ujarnya. Penyebabnya, menurut Jacobs, bisa karena persepsi mayarakat Indonesia yang merasa tidak nyaman, skor TOEFL yang tidak mencukupi atau sebab-sebab lainnya.

Susan mengatakan sebagian besar pengajuan visa yang dilakukan untuk belajar di AS dikabulkan pemerintahnya. Dengan penurunan tersebut, pemerintah AS sangat mengharapkan dengan sistem baru yang lebih sederhana dapat meningkatkan minat pelajar Indonesia.

Pemerintah AS mengharapkan para pelajar yang belajar di AS dapat mempelajari sistem demokrasi dan kebebasan berpendapat di AS, mempelajari ekonomi dan bisnis serta politik. "Kita ingin nantinya mereka akan menjadi pemimpin," kata Jacobs.

Sistem permohonan baru ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pendaftaran, nama-nama pemohon akan dicek. Setelah itu, akan dilakukan sistem cek sidik jari (finger print system) yang nantinya akan dicek kembali setelah tiba di AS.

Flamboyan

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Coordinator for Counterterrorism Department of State, Joseph Cofer Black di Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS), Jakarta, Jumat, 06 Februari 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040206] Duta Besar (Dubes) AS, Ralph L Boyce (kanan) mencoba mesin pemeriksa/detektor sidik jari yang diluncurkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di acara peragaan proses pemeriksaan visa biometrik di Kedutaan Besar (Kedubes) AS, Jakarta, Senin, 09 Februari 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040209]
Joseph Cofer Black
Ralph L Boyce
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pengusaha AS Sambut Baik Reformasi Indonesia
Hidayat Nur Wahid: AS Jangan Lindungi Koruptor
16 WNI Masih Ditahan di AS
TNI Dan Angkatan Darat AS Bahas Pertukaran Informasi
Mer-C Akan Kirim Relawan Ke Irak
Ormas Islam Serukan Dukungan untuk Fallujah
Pemerintah Berharap Kerjasama Militer dengan AS Membaik
Presiden Bush Akan Bersikap Makin Keras Terhadap Indonesia
Ba'asyir: Kemenangan Bush Bencana Bagi AS
Liddle Yakin George W. Bush Menang
> selengkapnya...


Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Kepolisian Republik Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data