Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Suap 16,5 Juta Poundsterling dalam Pembelian Tank Scorpion oleh Indonesia
Jum'at, 10 Desember 2004 | 13:10 WIB

TEMPO Interaktif, London: Harian The Guardian, Inggris, pada 9 Desember 2004, menurunkan sebuah artikel tentang pemberian komisi jutaan poundsterling atas pembelian tank Scorpion oleh pihak Indonesia pada pertengahan 1990-an.

Berita tersebut bisa ditulis Guardian, karena harian tersebut mendapat seluruh dokumen sehubungan dengan dugaan pemberian suap oleh perusahaan senjata Inggris, Alvis kepada putri tertua mantan presiden Suharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut.

Ditulis Guardian, penjualan tank Scorpion ke Indonesia tersebut sebagai transaksi yang korup, yang bila dilakukan saat ini, pihak-pihak yang terlibat dapat dijerat pasal-pasal pidana. "Untungnya" transaksi tersebut terjadi sebelum 2002, saat Inggris menerapkan undang-undang yang melarang pemberian komisi kepada pihak tertentu yang berhasil memuluskan transaksi besar.

Saksi dari pihak pimpinan Alvis (Nick Prest) menjelaskan secara detail (dokumen tersedia di situs the Guardian) bagaimana beberapa jenderal dan anggota keluarga mantan Presiden Soeharto tersebut, disuap.

Menurutnya, untuk membeli peralatan militer, harus dilakukan oleh anggota keluarga ABRI. Kemudian, untuk eksekusi pembeliannya, juga harus melibatkan perusahaan yang dimiliki angkatan bersenjata Indonesia. Hingga pada akhirnya, untuk mencairkan 160 juta poundsterling dari anggaran negara Indonesia, Alvis harus memberikan komisi kepada anak mantan Presiden Soeharto

Di pengadilan terungkap bahwa 16,5 juta poundsterling, atau 10 persen dari total transaksi, dibayarkan kepada Siti Hardiyanti Rukmana, melalui rekeningnya di luar negeri.

"Madam Tutut," demikian eksekutif Alvis, Nick Prest memanggilnya, datang ke London, bertemu dengan Prest pertama kali pada Februari 1994. Prest menyatakan bahwa Tutut bertemu dengan dia dan dua petinggi Alvis lainnya, Trevor Harrison dan Lionel Steele. "Nama lengkapnya adalah Mrs Siti Rakhmana ... putri tertua dari mantan Presiden Soeharto, dia mendorong kami untuk menjadikan dia dan rekan bisnisnya sebagai perusahaan konsultan (dalam hal pembelian tank Scorpion). Dia mewakili perusahaan Global Select."

Alvis, yang perusahaan publik, menandatangani perjanjian dengan Tutut pada 4 Mei 1994, menjanjikan Tutut komisi "jika berhasil membantu penjualan tank Scorpion".

Tutut kembali datang ke Inggris dua bulan kemudian (Juli 1994) mengunjungi pabrik Alvis di Coventry. Tutut datang dengan dua jenderal yaitu Letnan Jenderal Hartoho (tulisan Guardian memang Hartoho) dan Lentan Jenderal Mantiri. "Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meyakinkan pihak militer Indonesia agar menyetujui pembelian," kata Prest.

Menurut pimpinan Alvis lainnya, Lionel Steele, jika perusahaan dapat menarik hati pihak keluarga Presiden, maka "secara otomatis mereka ingin terlibat transaksi yang lebih besar."

Sementara itu, menurut kesaksian perwakilan lokal Alvis, Rini Soewondho, kesepakatan agar dapat mencairkan anggaran hanya bisa dilakukan jika didukung Presiden Soeharto. Hal ini, menurutnya, harus mencari dukungan dari "lingkaran dalam" Soeharto.

Akhirnya Alvis mendapatkan kontrak pembelian 50 tank Scorpion baru, senilai 1,6 juta pounsterling per tank.

Pembelian pertama ini juga disetujui pemerintah Inggris, setelah berbagai upaya lobi yang dilakukan Alvis. Izin ekspor keluar pada Maret 1995.

Alvis kemudian kembali mendekati Tutut untuk mendapatkan kontrak penjualan yang lebih besar. Kesepakatan pembayarannya ditandatangani dengan sebuah perusahaan baru Tutut, yang berbasis di luar Indonesia, bernama Basque.

Tapi, kali ini muncul masalah. "Karena Korea menawarkan barang yang sama dengan termin kredit yang sangat mudah dan murah. Kami tidak mungkin memenangkan persaingan dengan tawaran Korea ini.... Madam Tutut adalah cara untuk kembali memenangkan transaksi ini," jelasnya.

Meskipun pengiriman tank yang pertama, tidak berjalan mulus, karena tank tidak dapat berfungsi normal, tapi Indonesia bersedia mengeluarkan dana 80 juta poundsterling lagi untuk membeli 50 Scorpion. "Indonesia bermaksud membeli tiga batalyon, tapi, pada saat itu Adia dilanda krisis ekonomi, nilai rupiah Indonesia merosot dari Rp 2.300 menjadi Rp 13.000 terhadap dolar AS dan Presiden Soeharto jatuh," jelas Steele. "Sedangkan pemerintah yang baru, memiliki prioritas lain daridapa membeli tank kami," tambahnya.

Dalam dokumen yang dirilis Guardian ditunjukkan pembayaran Alvis kepada berbagai pihak.

The Guardian/Bina

Fototerkait
         
Barisan tentara Pasukan Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) dalam HUT Kostrad ke-43 di Makostrad, Jakarta, 9 Maret 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040309]. Barisan tentara Pasukan Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) dalam HUT Kostrad ke-43 di Makostrad, Jakarta, 9 Maret 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040309].
HUT Kostrad ke-43
HUT Kostrad ke-43

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

TNI Akan Inventaris Bisnis Usahanya
Tentara Penyerang Brimob di Aceh Diperiksa Polisi Militer
Strategi KSAL Kent Sondakh Untuk Pertahanan Kedaulatan Negara
Memilih Ryamizard Menabrak UU TNI yang Baru?
Joutje Kiroyan : Amerika Tak Mau Ryamizard
TNI Dan Angkatan Darat AS Bahas Pertukaran Informasi
TNI Dan Angkatan Darat Amerika Bahas Pertukaran Informasi
Ditutup, Latihan Tempur Indonesia-Singapura
TNI AD Butuh Alat Komunikasi dan Radar
Indonesia Galang Kerjasama Militer Dengan Rusia dan Cina
> selengkapnya...


Referensi

Sejarah TNI AU
Kasus-kasus Korupsi di Indonesia
Program-program Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh Memberantas KKN
ICW : Buka Kembali Kasus Korupsi yang Di SP3
Keppres RI No. 22 Tahun 2001 Tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat
Kepres RI No. 28 Thn.2003 Tentang Pernyataan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
UU RI No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari KKN
> selengkapnya...

Website

TNI
TNI Angkatan Darat
TNI Angkatan Udara
TNI Angkatan Laut
Departemen Pertahanan
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data