Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Strategi KSAL Kent Sondakh Untuk Pertahanan Kedaulatan Negara
Kamis, 09 Desember 2004 | 04:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Diam-diam Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sudah mempersiapkan cetak biru pertahanan laut Indonesia. "Yang kami kembangkan adalah bagaimana mempersiapkan angkatan laut yang mengerti Archipelago Strategic War, Strategi perang kepulauan, itu yang tidak ada dalam buku-buku buatan luar negeri,"kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh, 56 tahun, kepada Tempo di ruang kerjanya di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu siang (8/12).

Karena itulah selama Bernard memimpin AL-sejak 25 April 2002, langsung mengelompokkan (menggroupkan) kapal-kapal yang dimiliki TNI AL menjadi tiga : kapal tempur, kapal patroli dan kapal pendukung.

Kapal tempur (striking force) yang dilengkapi sensor weapon dan command yang lengkap (alat deteksi, senjata dan meriam, dan peluru kendali dll), yang fungsi utamanya untuk bertempur ada 36 kapal lalu diturunkan (degradasi) menjadi 14 kapal.Kapal tempur itu yang menjadi primary line (baris utama) pertahanan, kekuatannya bisa menenggelamkan kapal tempur lawan. "Tapi 14 kapal itu harus punya kemampuan 100 persen yang siap menenggelamkan kapal tempur lawan,"kata Kent.

Sebelumnya kapal-kapal tempur yang ada tak lengkap, kalau tidak rudalnya rusak, radarnya mati. "Berarti sebenarnya kalau kita lihat penampilan angkatan laut saat itu memang armadanya ya memang kapal-kapal tua yang jelek2 itu, Apa kita mau begitu terus?"tanyanya.

Padahal ada ancaman yang termasuk potensial (ancaman yang paling berpotensi terjadi tetapi belum terjadi). Misalnya sengketa perbatasan, pelanggaran alur laut kepulauan. "Itu yang harus dihadapi kapal tempur,"kata Kent.

Selebihnya 22 kapal diubah menjadi kapal patroli. agar bisa bergerak lebih lincah untuk daerah kepulauan seperti Indonesia. "Itu merupakan secondary line dengan kemampuan yang lebih,"kata Kent. Kapal patroli, yang penting mesin dan navigasinya jalan, senjata kecil dan bisa cepat. "Kapal patroli itu harus sebanyak-banyaknya, dan itu tidak mahal, yang penting mesin hidup, navigasi bagus, kasih senjata kecil,"ujarnya. Karena ada ancaman faktual, yang setiap hari terjadi, seperti illegal loging, illegal fishing, penyelundupan dll itu dihadapi kapal patroli, “Dan itu yang paling banyak,"ujarnya.

Dari 22 kapal ini, yaitu 16 eks Jerman Timur dan 6 eks Belanda, merupakan kapal-kapal tua yang teknologinya ketinggalan, sehingga kalau merenovasinya menjadi 100 persen, akan butuh dana yang besar. Sehingga kapal ini dijadikan kapal patroli tetapi fungsinya tidak dihilangkan menjadi secondary line(lapis kedua). Sehingga jika sewaktu-waktu negara membutuhkan perang, 22 kapal tersebut masih bisa digunakan untuk bertempur. "Tapi dalam keadaan damai lebih baik jadi kapal patroli,"kata Kent. Kelompok ketiga, kapal-kapal pendukung seperti tanker dan angkutan.

Selama ini orang awam, menurut Kent, membayangkan angkatan laut cuma Kapal. Bagi publik angkatan laut itu hebat, kalau dilihat armada, kapal-kapal yang hebat dan tentu performance, hasil dan kerjanya. "Yang menjadi pegangan saya adalah kerjanya. Maka kebijakan apa yang harus saya ambil agar kapal hidup kembali, sementara diut nggak ada. Beli baru susah, maka harus ada kebijakan,"katanya.

Nah, strategi besar pertahanan menurut KSAL harus dibuat oleh Departemen Pertahanan, lengkap dengan perencanaan anggarannya. "Tapi pada pelaksanaan, dan strategi sektoral, harus dilakukan TNI-AL. karena kami yang tahu persoalan di lapangan,"katanya.

Untuk pengamanan Selat Malaka, beberapa negara siap membantu, termasuk Jerman. "Tetapi bagi kita yang penting bantuan asing itu tidak dalam bentuk mengirim kekuatan patrolinya. Tetapi dalam bentuk sharing intelejen, training, memberikan dan membantu pengembangan kekuatan seperti bantuan peralatan,"kata Kent.

Karena itu KSAL kelahiran Tobelo, Halmahera, Maluku itu, mengadakan kerjasama tiga negara, Malaysia, Singapura dan Indonesia (Malsindo). Kerjasama itu untuk memperkuat kawasan Selat Malaka yang berbatasan dengan ketiga negara itu. "Kalau tidak tiga negara itu yang melakukan pengawasan dengasn kekuatan sendiri, kami kawatir kekuatan tempur asing masuk dengan lasan mengamankan kapal-kapal niaga negeri yang lewat kawasan selat Malaka, yang dianggap rawan keamanan,"katanya.

Karena gagasan Kent pada Malsindo itulah dua opekan lalu, Kent memperoleh Bintang Tertinggi Panglima Gagah Angkatan tentra dari Yang dipertuan Agung Raja Malaysia. "Kerjasama itu bukan dalam bentuk joint, tetapi dalam bentuk trilateral, kerjasama tiga negara, komando pada masing-masing negara, jadi kami hanya koordinasi,"katanya.

Tak salah jika, banyak pihak malah mendukung Laksamana Kent menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Endriartono. Bisakah para wakil rakyat di Senayan melirik Kent?

Sunaria dan AT

Fototerkait
         
Anggota majelis dan perwakilan negara tetangga mendengarkan pembacaan Pidato Kenegaraan  tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2005 yang disampaikan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam sidang majelis di Gedung MPR/ DPR, Jakarta, 16 Agustus 2004. [TEMPO/ Santirta M; Digital Image; 20040816]. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Pol. Da'i Bachtiar (kiri) dan Marsekal Muda Sutrisno SP (kanan), dalam acara peringatan ulang tahun TNI-AU ke-58 di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 April 2004. [TEMPO/Usman Iskandar; K21A/199/2004; 20040507].
Sidang Majelis 2004
Da'i Bachtiar

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Dana Studi Banding DPR Dikembalikan
Keluarga Munir Desak DPR Gunakan Hak Interpelasi
Presiden Melantik Kepala BIN, Syamsir Siregar
Anggaran BURT Tidak Boleh Dialihkan Untuk Tim Pemantau Haji
Mensesneg Rapat Kerja dengan DPR
Memilih Ryamizard Menabrak UU TNI yang Baru?
Studi Banding DPR Tidak Punya Makna Apapun
DPR : Kenapa SBY Pilih Militer?
DPR Prioritaskan Pantau Pelaksanaan Haji
Rapat Paripurna Berlangsung Singkat dan Aman
> selengkapnya...


Referensi

Jalan Panjang Pergantian Panglima TNI
Pembahasan Penonaktifan Akbar Tanjung di DPR
Sejarah TNI AU
Spesifikasi F-16
Profil Endriartono Sutarto
Kepres RI No. 28 Thn.2003 Tentang Pernyataan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
UU RI No.22 Thn.2003 Tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD
UU RI No.12 Thn.2003 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, Dan DPRD
> selengkapnya...

Website

TNI
TNI Angkatan Darat
TNI Angkatan Udara
TNI Angkatan Laut
Departemen Pertahanan
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB[spasi]brk05[spasi]komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data