|
Nasional
Studi Banding DPR Tidak Punya Makna Apapun
Selasa, 07 Desember 2004 | 20:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat politik Universitas Gajah Mada, Riswanda Imawan mengatakan studi banding yang akan dilakukan DPR ke sejumlah negara seperti Australia, Malaysia, dan Cina tidak memiliki makna apapun. Karena menurut Cak Ris, negara yang mereka kunjungi merupakan negara yang sistem politik, sosial, dan kondisi geografisnya amat beda dengan Indonesia.
"Untuk apa studi banding itu?" kata Cak Ris sesudah menjadi pembicara dalam Musyawarah Nasional II Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi) di Hotel Intercontinental, Selasa (7/12).
Sebagai wakil rakyat, menurut Cak Ris, dalam situasi yang serba sulit dan ketika rakyat bersama pemerintah punya komitmen untuk melakukan penghematan, maka amat tidak sensitif secara politik, jika ada anggota dewan yang pergi keluar negeri “hanya untuk studi banding,” ujarnya.
Sebagaimana ramai diberitakan, anggota DPR 2004-2009 akan melakukan studi banding ke berbagai negara. Mereka menggunakan sisa anggaran sebesar Rp 2,4 Miliar. Sampai saat ini dari 10 fraksi di DPR sudah sembilan fraksi yang menandatangani persetujuan tersebut, kecuali Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Cak Ris menilai, sisa dana tersebut lebih baik dialokasikan untuk korban bencana di berbagai daerah, seperti Alor, Nabire dan Blitar. "Akan lebih efektif dan lebih baik terhadap kepercayaan publik," tuturnya
Seharusnya, menurut Cak Ris, partai politik harus segera menganulir tindakan anggota-anggotanya yang setuju studi banding. PKS menurut Cak Ris, telah mencoba berinvestasi untuk pemilu 2009 dengan tidak menandatangani surat persetujuan itu. "Jadi, harus sensitif dong, sebetulnya banyak sekali manuver politik PKS yang sebenarnya merupakan investasi 2009," katanya.
“Kalau anggota DPR jadi pergi, maka kepercayaan masyarakat akan turun,” kata Cak Ris.
Eworaswa
INDEKS BERITA LAINNYA :
|