Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

DPR : Kenapa SBY Pilih Militer?
Selasa, 07 Desember 2004 | 20:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi I DPR RI menghormati keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhono mengangkat Mayjen Purnawirawan Syamsir Siregar sebagai kepala Badan Intelejen Nasional (BIN) menggantikan Hendropriyono yang mengundurkan diri. Namun, wakil ketua komisi I dari fraksi Kebangkitan Bangsa, Effendy Choirie, lebih suka jika M. As’ad, wakil kepala BIN, yang menduduki posisi itu.

Saat ditemui sebelum Rapat Kerja komisis I DPR RI dengan Gubernur Lemhanas siang ini (7/12) di Jakarta, menurut Effendy, seharusnya presiden menghormati institusi sipil. "BIN sebagai komunitas sipil sebaiknya dipimpin oleh orang sipil. Kecuali orang sipil nggak ada yang hebat, baru dicari tentara yang sudah tua,"katanya.

Menurut Effendy, As’ad adalah orang yang tepat untuk posisi itu karena merupakan satu-satunya intelejen yang mampu berbahasa Arab dan mempunyai jaringan di Timur Tengah. "Ini, sangat sesuai dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi masalah teroris,"ujarnya.

Senada dengan Choirie, Yuddy Christanto, anggota komisi I dari fraksi Partai Golkar, menganggap bahwa pengangkatan kepala BIN adalah hak prerogatif presiden. “Tanpa bermaksud mempermasalahkan sipil atau militer, alangkah baiknya jika pemimpinnya adalah orang yang berpengalaman di lembaga itu,” katanya pada kesempatan terpisah, juga sebelum Raker berlangsung.

Yuddy menganggap As’ad, yang sudah berkecimpung di BIN selama lebih dari 30 tahun, lebih memahami dan menguasai kegiatan-legiatan yang berhubungan dengan BIN. BIN bukan struktur intelejen militer. Yuddy dan komisi I merekomendasikan pemimpin sipil untuk memperkuat komunitas sipil dalam bidang intelejen.

Menurut pandangan Yuddy, Presiden memilih Mayjen Purn. Syamsir Siregar karena dia adalah salah satu tim sukses Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di wilayah Sumatera. “Jadi wajar SBY beri kepercayaan pada orang dekatnya yang punya latar belakang intelejen dan kebetulan berasal dari kalangan militer,” katanya. Mayjen Purn. Syamsir Siregar adalah mantan kepala intelejen strategis ABRI.

Dilihat dari kacamata kepentingan presiden, menurut Yudhy keputusan itu wajar. Kepala BIN harus orang yang betul-betul dipercaya oleh Presiden karena menjadi mata dan telinganya dalam perumusan kebijakan-kebijakan nasional,” jelasnya. “Kalau Presiden tidak percaya, ya susah,”katanya.

Dari sudut kepentingan nasional, menurut Yuddy, tidak ada salahnya, karena Syamsir merupakan seorang prajurit militer yang mempunyai latar belakang pendidikan intelejen yang panjang. “Semoga dia (Syamsir) mampu mengkoordinasi operasi-operasi intelejen BIN dengan intelejen-intelejen yang ada di TNI,” harapnya.

Walau begitu, secara pribadi Yuddy mengatakan lebih setuju jika jabatan kepala BIN dipegang oleh orang yang betul-betul melewati jenjang karir profesional di BIN. "Tapi bukan berarti saya tidak setuju lho,"katanya.

SSuliyanti


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Joutje Kiroyan : Amerika Tak Mau Ryamizard
BPK Segera Dilantik
Mahkamah Konstitusi Tunda Putusan Soal BPK
Pengamat Militer : Ada Post Authority Syndrom di TNI
Sri Edi Swasono : SBY Tak Boleh Gagal
Isi Surat Presiden SBY kepada Ketua DPR
Presiden dan Wakil Buka Puasa dengan Kapolri
Pemilihan Ulang Pimpinan DPRD Purwakarta 10 November
Saksi Tambahan Buat Nurdin Halid
Panglima TNI Endriartono : Ryamizard Tak Bakal Datang ke DPR
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data