|
Nasional
Adu Cerdas Para Junior di Jalur Sains
Selasa, 07 Desember 2004 | 15:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ada tiga puluh negara. Masing-masing mengirimkan utusan minimal tiga dan maksimal 6 siswa, kecuali tuan rumah Indonesia yang memboyong 12 peserta. Para peserta setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ini beradu cerdik mulai hari ini (7/12) dalam International Junior Science Olympiad (IJSO)di Gedung Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Jakarta.
Untuk Indonesia, keduabelas siswa ini terbagi dalam dua tim. Mereka terpilih ikut olimpiade internasional ini setelah lolos seleksi sejak dari sekolah masing-masing, Kabupaten atau Kota, Provinsi dan tingkat nasional. Untuk seleksi tingkat nasional, tersaring 30 kandidat yang dilatih secara khusus selama 1 bulan. Usai penggodokan, dilakukan seleksi teraklhir dan dijaring 12 siswa yang kini melaju dalam IJSO.
Khusus untuk menghadapi olimpiade sains junior ini, dua belas siswa terpilih kemudian dilatih dan dibimbing dosen-dosen dari perguruan tinggi terkemuka dibidang sains. Yakni dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan selama 9 bulan di Lippo, Karawaci, Tangerang, Banten.
Selama pelatihan, para siswa diberi asupan berbagai materi pelajaran yang akan dilombakan, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi. Hebatnya lagi, materi yang disuguhkan tidak sebatas mata pelajaran untuk tingkat SLTP, tapi lebih jauh lagi. Soalnya, untuk olimpiade internasional, ruang lingkup mata pelajaran tiap negara berbeda. Maka, untuk mengantisipasinya, para murid tingkat SLTP ini juga diberi materi yang lebih maju dari kurikulum SLTP.
Dalam olimpiade ini, tiap peserta akan melewati tiga tahap ujian. Semua tes yang diberikan ini untuk individual, bukan tim. Selain itu, dilakukan adu kemampuan teoretis dan kompetisi eksperimental. Penentuan pemenang dilihat dari nilai kumulatif tiga tes yang dilakukan siswa. Selain akan ada penentuan pemenang khusus untuk misalnya The Best Experimental Test.
Sayangnya, masalah teknis sedikit mengganggu pelaksanaan tes hari ini. Salah satunya yang paling terasa mengganjal adalah belum lengkapnya terjemahan soal tes bagi siswa. Koordinator Bidang Publikasi dan Sosialisasi IJSO 2005, Hidayat Muchtar, menjelaskan tidak semua soal diterjemahkan ke dalam bahasa pengantar tiap negara oleh Team Leader-nya. Misalnya dari 12 soal, hanya 10 soal yang diterjemahkan. Akhirnya, soal-soal itu harus diterjemahkan dulu sebelum tes dimulai.
Tadinya upaya ini menurut Hidayat, dilakukan untuk mencegah kebocoran soal. Sebab Team Leader baru menerjemahkan soal tadi malam dan baru selesai tadi pagi. Selain soal penerjemahan tadi, beberapa peserta, terutama dari luar negeri yang kondisi kesehatannya terganggu. “Jadi harus keluar masuk toilet, bisa jadi karena adaptasi makanan dan cuaca di Indonesia,” ucap Hidayat.
Tak heran, usai menghadapi puluhan soal, para murid SLTP dari berbagai negara ini berrehat dengan mengunjungi pameran pendidikan yang diadakan di Plaza Gedung A Depdiknas. Pameran ini sendiri kata Wahyu Suryakusumah, Ketua Panitia Pameran Pendidikan SLTP bertujuan untuk memperluas interaksi dari peserta IJSO dengan peserta pameran. “Jadi, ada semacam sharing pengalaman yang dapat menstimulus pengembangan kreatifitas murid,” ujar Wahyu.
Rr. Ariyani
INDEKS BERITA LAINNYA :
|