|
Nasional
133 Warga ?Hilang? Setelah Kerusuhan Bojong
Senin, 06 Desember 2004 | 04:19 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor: Sejak terjadinya kerusuhan di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bojong, Klapanunggal, Bogor, pada 22 November lalu, hingga Minggu (5/12) sebanyak 133 orang warga dari desa-desa sekitarnya masih dinyatakan "hilang".
Data tersebut diungkapkan koordinator Posko Pembelaan Warga Bojong, Erwin Usman. Menurutnya, semula pihaknya menerima laporan adanya 215 warga yang belum kembali ke rumah masing-masing. Namun, setelah diverifikasi dengan mendatangi rumah pelapor, ternyata hanya 123 orang yang masih belum kembali ke rumahnya.
Tapi data itu kini bertambah. "Laporan terakhir, ada 10 warga lagi yang dinyatakan belum kembali ke rumahnya. Mereka melaporkannya ke posko," ungkap Erwin. Sepuluh orang yang dianggap hilang itu terdiri atas 4 orang dari Desa Bojong, 2 orang dari Desa Mampir, 2 orang dari Desa Situsari, dan 2 orang dari Desa Singasari. Setelah verifikasi akhir, warga Bojong berencana melaporkan hal tersebut ke Markas Besar Kepolisian RI Senin (6/12).
Sebenarnya, ketika orang yang dianggap hilang masih berjumlah 123, hal tersebut sudah dilaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. "Tim pencari fakta dari Komisi sudah beberapa kali datang ke rumah warga yang menghilang," ujar Erwin.
Mengenai orang yang dianggap hilang ini, Kepala Kepolisian Resort Bogor Ajun Komisaris Besar Muhamad Taufik berkali-kali menegaskan, pihaknya tidak melakukan penangkapan lagi sejak menetapkan 19 warga tertangkap tangan saat aksi kerusuhan berlangsung. Bahkan 19 warga yang diperiksa semalaman itu hanya dijadikan saksi karena keesokan harinya dikembalikan ke rumah masing-masing. ?Kami tegaskan, tidak ada penangkapan lagi. Kami menjaga situasi agar kondusif seperti semula. Namun, proses hukum terhadap tersangka tetap dilanjutkan," ujar Taufik.
Deffan Purnama?Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|