|
Industri TI Sumbang Investasi Rp. 9 triliun
Minggu, 05 Desember 2004 | 17:02 WIB
TEMPO Interaktif, Bali:Industri teknologi informasi saat ini hanya menyumbang investasi USD 1 miliar atau Rp 9 triliun terhadap seluruh pendapatan nasional pemerintah Indonsia.”Sangat-sangat kecil sekali,”kata Presiden Direktur Hewlett Packard (HP) Indonesia, Elisa Lumbantoruwan, di Bali akhir pekan lalu.
Padahal kata Elisa, di India dan Cina pertumbuhan ekonominya sangat ditunjang oleh industri teknologi informasi. Bahkan di India, menurut Elisa, sebagian besar pendapatan nasional berasal dari industri ini.
Kecilnya sumbangan industri teknologi informasi di Indonesia menurut Elisa karena masih sedikitnya perusahaan teknologi informasi internasional berekspansi di negara ini. Hal itu disebabkan oleh beberapa kendala yang dihadapai oleh investor terhadap iklim investasi di Indonesia yang tidak mendukung.Elisa mencontohkan ketika HP internasional akan menanamkan modalnya membangun pabrik perakitan komputer berskala internasional senilai USD 2 miliar pada yanuin 2001. Setelah beberapa kali pembicaraan rencana investasi itu gagal dan akhirnya pindah ke Cina.
Di Cina saaat ini merupakan pusat perakitan teknologi HP dari seluruh produk yang dihasilkannya. Gagalnya investasi internasional itu menurut Elisa disebabkan oleh birokrasi investasi yang terlalu panjang, peraturan tenaga kerja yang terlalu memihak buruh dan sistem perpajakan yang tidak kompetitif. Ia mencontohkan peraturan tenaga kerja yang berpihak pada buruh seperti kewajiban perusahaan memberikan pesangon pada karyawan yang keluar dari perusahaannya. Adanya kewajiban ini, menurut Elisa, mengharuskan setiap perusahaan menganggarkan sejumlah dananya untuk kebutuhan ini.”Ini kan duwit wati,”katanya.
Sementara peraturan perpajakan dengan tarif paling tinggi di kawasan ASEAN, menurut Elisa, membuat investor enggan menanamkan modalnya di Indonesia. Penelitian Bank Dunia menyebutkan untuk memperoleh izin investasi diperlukan waktu 151 hari kerja setelah pengajuan izin ke pemerintah.
Hal lain, menurut Elisa, belum adanya kebutuhan yang terlalu kuat di masyarakat Indonesia terhadap teknologi informasi,. Di jakarta saja warga yang memiliki akses ke teknologi informasi hanya sekitar 8 persen, jauh lebih rendah dibading Bandung 20 persen. Sementara rata-rata untuk seluruh Indonesia hanya dua persen penduduk saja yang punya akses ke teknologi informasi.
Padahal, kata Elisa, dengan pertumbuhan yang sangat pesat industri teknologi informasi bisa menghasilkan peluang kerja baru sebanyak 1-5 juta pertahun. Dengan jumlah peluang itu teknolgoi ini saja bisa menyerap laju pertumbuhan tenaga kerja baru sebanyak 2,5 juta pertahun..
Untuk menumbuhkan industri ini, Elisa punya saran yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan nilai dan kebutuhan pada masyarakat terhadap teknologi informasi. Caranya bisa melalui pengenalan teknologi yang dimulai dari sekolah secara dini. Disisi lain pemerintah juga perlu menciptakan iklim investasi yang mendukung berkembangnya industri ini.
Sementara direktur pemarasan HP Indonesia, Mulia Dewi Karnadi, memprediksi pada tahun 2008 industri teknologi informasi akan meningkat menajdi USD 2,5 miliar dengan tingkat pertumbuhan 13,9 persen. Ini sebetulnya angka yang kecil karena pada tahun 2009 pemerintah butuh Rp.4 ribu triliun total investasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen dan menyusutkan jumlah penganguran terbuka dari 20 persen menjadi 5,1 persen.
Bagja Hidayat--Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|