|
Yogyakarta
Jelang Munas, Akbar Kian Rajin Ke Daerah
Minggu, 05 Desember 2004 | 15:18 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Setelah membuka Musyawarah Daerah (Musda) di Sumatera Utara dan beberapa daerah lainnya, Akbar Tandjung membuka Musda di Yogyakarta, Minggu, hari ini. Jelang Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar pertengahan Desember di Bali nanti, Akbar yang maju lagi ke bursa pencalonan itu, rajin mendatangi sejumlah daerah. Dari Yogyarakarta itu, Akbar akan meluncur ke beberapa daerah lainnya.
Dalam membuka Musda Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di gelar di Hotel Saphir Jogya itu, Akbar menegaskan bahwa Musda adalah moment penting menuju Munas.Mungkin karena begitu pentingnya, dari Jogya itu Akbar segera meluncur ke Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana, Akbar juga akan membuka Musda.
"Saya juga perlu mengingatkan, pada Munas nanti hendaknya memilih pemimpin partai yang akseptabel. Jangan hanya memilih pemimpin partai dengan
pertimbangan jangka pendek, namun untuk jangka panjang demi kemajuan partai," tegas Akbar.
Musda Partai Golkar DIY ini, kata Akbar, merupakan Musda ke-22 dari seluruh provinsi di Indonesia. Musda Partai Golkar untuk tingkat provinsi seluruh Indonesia diharapkan sudah selesai pada tanggal 8 Desember.
Akbar berkali-kali menegaskan bahwa konsolidasi penting dilakukan terutama menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 mendatang. Berkat konsolidasi, kata Akbar, Partai Golkar bisa lolos dari segala macam tekanan pada saat reformasi.
"Pasca reformasi kita mendapat tekanan dan hujatan. Sejumlah kantor DPR Partai Golkar di daerah bahkan dirusak massa. Namun, pada Pemilu 1999 Partai
Golkar keluar sebagai pemenang kedua. Padahal, saat itu banyak pengamat menyatakan bahwa Partai Golkar akan kolaps. Partai Golkar bahkan mendapat tekanan dari penguasa saat itu dengan munculnya Dekrit Presiden. Tekanan juga dilakukan terhadap saya melalui pengadilan dengan tuduhan korupsi. Namun semuanya bisa kita lalui dan bahkan pada Pemilu 2004 lalu kita keluar sebagai pemenang," kata Akbar.
Pernyataan senada juga disampaikan Ketua DPD Partai Golkar DIY, HM Sudarno SIP, dalam sambutannya. "Tahun 1998 sampai tahun 2000 merupakan saat-saat
terberat bagi kita. Setiap hari kita dihujat dan didemo. Bahkan pernah muncul usulan agar pemerintah menerbitkan Surat Bebas Golkar," katanya.
Pada Pemilu 1999, lanjut Sudarno, banyak yang memprediksi bahwa Golkar akan habis. Namun, katanya, kenyataannya pada waktu itu Partai Golkar DIY
berhasil meraih tujuh kursi di DPRD DIY, meski turun jauh dibanding pemilu sebelumnya yang mendapat 21 kursi. "Pemilu 2004 kita berhasil meraih delapan
kursi di DPRD DIY," katanya.
Selain Akbar, nama yang juga beredar ikut merebut Ketua Umum Golkar adalah Surya Palloh dan Jenderal Wiranto. Dibandingkan dengan beberapa calon lainnya, Akbar memang lebih berpeluang melakukan konsolidasi langsung dengan pengurus daerah. Posisinya sebagai Ketua Umum Golkar, memungkikannya bertemu dengan para pengurus partai di daerah.
Setelah Musda di daerah-daerah rampung misalnya, Akbar akan mengumpulkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) di Jakarta. Pimpinan daerah itu akan dikumpulkan pada tanggal 9 hingga 10 Desember. Mereka - kata Akbar- diundang untuk mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) sebagai
persiapan akhir pelaksanaan Munas di Bali itu.
Heru Cn--Tempo (Yogya)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|