|
Wisata Ke Bangkai Lion Air
Minggu, 05 Desember 2004 | 13:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemakaman Gedungnggobyah mendadak ramai. Ribuan orang berjejal ke situ. Mereka tidak sedang nyekar, tapi menengok dari dekat bangkai Pesawat Lion Air yang jatuh Selasa sore lalu. Warga ingin melihat dari dekat bangkai pesawat yang sampai saat ini masih dalam proses evakuasi. Umumnya warga datang bersama keluarga, ada yang berombongan dengan tetangga maupun sesama kawan mereka.
Ada yang datang berjalan kakai, bersepeda onthel, bersepeda motor, mobil pribadi hingga rombongan dengan menaiki kereta kelinci. Dalam radius satu kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat, ditutup untuk kendaraan umum dengan penjagaan dari personil Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia (TNI AU). Mereka yang membawa motor atau mobil harus turun dan kemudian berjalan ke lokasi kejadian.
Walau tak bisa melihat dari dekat, karena adanya larangan, warga tetap saja berbondong-bondong ke situ. Pedagang pun berjamuran mulai dari pedagang rokok, makanan kecil, minuman ringan dan mainan anak-anak. Juru parkir dadakkan juga bermunculan.
‘’Saya tidak puas kalau hanya lihat dari televisi dan baca Koran. Membayangkan saja sudah ngeri, karena itu penasaran ingin melihat langsung pesawat yang jatuh itu seperti apa. Puas kalau melihat dengan mata kepala sendiri,’’ ungkap Ny Sarwini, ibu rumah tangga yang datang jauh dari kawasan Jebres, Solo.
Ny Sarwini datang bersama anaknya ikut rombongan ibu-ibu satu RT. Mereka menyewa kereta kelinci untuk mengangkut sekitar 30 ibu-ibu. Dari Jebres ke lokasi kejadian di Kecamatan Ngempkas, Boyolali sseorang ibu iuran Rp 3.000,- untuk membayar sewa kereta kelinci itu.
Hal senada juga diungkapkan Ny Sutami, asal Mojolaban, Sukoharjo. Ia bersama tiga anaknya sengaja datang karena ingin melihat langsung bagaimana kondisi dan tempat jatuhnya pesawat. Selain itu anak-anaknya memaksa ingin melihat pesawat jatuh ‘’Kalau lihat di TV hanya bisa membayangkan, setelah melihat langsung ternyata ngeri juga. Anak-anak saya juga puas setelah bisa melihat pesawat jatuh,’’ paparnya.
Sejumlah pemuda dan bapak-bapak dari desa sekitar lokasi kejadian menangkap peluang ini. Mereka membuka areal parkir dadakan. Harga parkir pun dipatok lebih tinggi dari areal parkir lainnya. Untuk sepeda onthel Rp 1.000,-, untuk sepeda motor Rp 2.000,- dan mobil Rp 3.000,-.
Tidak jarang, pengunjung yang datang mengeluhkan harga parkir dadakan ini . Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena untuk menuju lokasi kecelakaan pesawat harus jalan kaki. ‘’Ya mau apalagi ditarik parkir lebih mahal. Tapi saya puas melihat langsung. Berbeda dengan melihat di TV,’’ ujar Soni, yang mengaku datang berombongan bersama sembilan kawannya dari Salatiga.
Kedatangan ribuan masa itu juga dimanfaatkan para penjual makanan dan mainan anak-anak. Lokasi sekitar kejadian itu seperti pasar malam. Berbagai jenis penjual makanan berjejer di sepanjang jalan dan tanah-tanah kosong. Mulai penjaja es, makanan kecil, minuman hingga gerobag dorong yang menjual nasi layaknya warung makan.
‘’Saya datang dengan gerobag dorong sejak subuh, hanya dalam hitungan jam, nasi bungkus, pisang godog, telor asin, kue dan minuman habis diserbu pembeli,’’ ujar Atun yang semula berdagang di trotoar dekat Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berjarak sekitar 15 kilometer.
Dirinya nekad memindahkan gerobag warungnya ke lokasi kejadian jatuhnya pesawat setelah sebelumnya melihat lokasi kejadian. ‘’Hari kedua saya bersama suami melihat tempat jatuhnya pesawat. Ternyata ribuan orang lainnya juga melihat. Karena itu saya menangkap peluang untuk jualan nasi di tempat ini,’’ paparnya.
Hal serupa juga dilakukan Wartono, penjaja mainan anak-anak. Ia semula berkeliling dari kampung ke kampung. Namun setelah ada pesawat jatuh ia sejak subuh sudah nongkrong di kawasan itu untuk menanti datangnya ribuan massa yang ingin melihat lokasi pesawat jatuh. ‘’Untungnya lumayan, karena banyak anak-anak yang juga ikut orang tuanya atau sengaja diajak menonton pesawat jatuh ini,’’ papar Wartono.
Karena animo masyarakat yang ingin menonton semakin tinggi setiap harinya, pihak TNI Lanud Adisumarmo melakukan pengaturan. Jalan sekitar satu kilometer dari lokasi ditutup untuk kendaraan umum. Sementara di lokasi jatuhnya pesawat yang ditutup garis police line penjagaan lebih ketat. Hanya petugas dan wartawan yang bisa mengakses masuk ke dekat bodi pesawat tengah dipotong-potong untuk dievakuasi.
Menurut Kepala Dinas Operasi Lanud Adisumarmo Kol Pnb Kusworo pihaknya bertugas melakukan pengamanan di sekitar lokasi kecelakaan pesawat Lion Air. Bagi warga yang ingin melihat dipersilakan tapi diupayakan tertib tidak mengganggu proses evakuasi badan pesawat. Evakuasi sendiri sudah mendekati selesai. Pesawat sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan diperkirakan paling akhir evakuasi selesai Hari Selasa (6/12).
Anas Syahirul --Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|