|
Nasional
Hasyim-Sahal Disarankan Cari Alternatif Kantor NU
Sabtu, 04 Desember 2004 | 18:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Zuhdi Mukhdzor, Pelaksana Harian Ketua Umum Gerakan Pemuda Anshor, menyarankan KH Hasyim Muzadi dan Sahal Mahfudz mencari alternatif gedung lain sebagai kantor pusat PBNU. Ini cara untuk menghindari perebutan gedung apabila KH Abdurrahman Wahid jadi menguasainya.
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan Presiden RI itu, mengaku mendapat amanah sejumlah kiai berpengaruh untuk membuat "NU yang benar", termasuk pemanfaatan gedung PBNU yang berada di Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat itu.
Amanah itu diterima Gus Dur apabila dia kalah dalam perebutan kursi rais am dan tanfidziyah pada muktamar di Solo beberapa hari yang lalu.
Muktamar akhirnya memilih Hasyim dan Sahal, masing-masing sebagai Ketua Tanfidziyah dan Ketua Rais Syuriah untuk memegang kendali organisasi warga nahdliyin tersebut. “Tetapi kami sangat tidak menginginkan hal itu terjadi (pencarian gedung lain,” kata Zuhdi kepada Tempo melalui sambungan telepon, Sabtu (4/12) sore.
Antisipasi pertama yang akan diupayakan, menurut Zuhdi, sebelum terpaksa mencari kontrakan, akan menawarkan jalan keluar ke kubu Gus Dur. Komprominya, kubu Gus Dur sebagai pengontrol pengurus NU terpilih. Maksudnya, kedua kubu akan terjadi kerja sama dalam satu gedung.
Apabila langkah itu gagal, Zuhdi berpendapat sebaiknya Hasyim–Sahal tidak memaksakan menempati gedung PBNU yang megah itu. “Kantor memang penting, tetapi kehidupan NU tidak bergantung kepada kantor yang megah,” ucap Zuhdi.
Zuhdi sendiri sangat menyesalkan perebutan kantor pusat tersebut. “Di samping menjadi preseden yang sangat buruk hal itu sangat memalukan,” tegasnya. Untuk itu segala hal yang menyebabkan perebutan gedung segera diklarifikasi.
Gus Dur mengklaim, pembangunan gedung itu ada uang pribadinya. Apabila itu benar, kata Zuhdi, dan dianggap hutang NU, maka harus diselesaikan. Dia menyesalkan mengapa masalah itu baru diungkit sekarang. “Bila harus ditanggung bersama, kami akan menggalang seluruh warga NU dan GP Anshor untuk iuran,” katanya.
GP Anshor, kata Zuhdi, dalam waktu dekat akan menengahi pertikaian ini. Atas nama organisasi anak muda, tutur Zuhdi, GP Anshor mencoba mengingatkan kembali para orangtua yang sedang "bertikai". Caranya, masing-masing kubu akan ditemui untuk diajak bicara dari hati ke hati.
“Bila keduanya sudah cooling down kami upayakan mempertemukan berikutnya,” ujar Zuhdi.
Zuhdi juga menyesalkan sikap para kiai yang berada di belakang Gus Dur. Sebelumnya, mereka banyak bicara politik saat pemilihan presiden. Zuhdi menyangsikan ukuran sepuh kiai itu apa. Menurut dia, sebagian kiai yang berada di belakang Gus Dur masih relatif lebih muda.
GP Anshor tidak ingin melihat para orangtua memberikan contoh yang tidak baik. “Kami himbau semua pihak untuk berfikir sehat, rasional, dan mengedepankan kemashlahatan,” Zuhdi berharap.
Khairunnisa-Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|