Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Presiden Susilo Terkurung Paham Neo Liberal
Kamis, 02 Desember 2004 | 20:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini terkurung dalam ruang hampa dengan konstruksi sosial, ekonomi, hukum dan politik yang dibuat Amerika. Sehingga mau tidak mau, SBY harus mengikuti arus tersebut. Kesimpulan ini diungkapkan Suryo Ismail, Direktur Gerakan Edukasi Rakyat dalam seminar bertema Evaluasi 50 Hari Pemerintahan SBY, Ditinjau Dari Sisi Penegakan Hukum dan HAM, di Gedung Juang 45 Jakarta, Rabu (2/12).

Seminar itu diselenggarakan oleh Serikat Pengacara Rakyat (SPR) dan Lembaga Study Advokasi Independensi Peradilan Indonesia (LSADIPI). Selain Suryo, tampak pula Raja Nasution dari Perhimpunan Pembela Publik Indonesia (PPPI), Ori Rahman dari KontraS dan Ulung Purnama dari Serikat Pengacara Rakyat (SPR) dengan moderator M. Zamzami.

Suryo menganggap bahwa sejak awal visi-misi yang disampaikan SBY lebih mencerminkan kepentingan ekonomi global. Sehingga wajar apabila sampai saat ini janji penegakan hukum belum terlaksana. Ia juga menilai banyak hal belumjelas dari latar belakang SBY."Kalau kita menengok ke belakang, banyak hal yang belum jelas tentang SBY", ujar Suryo.

Senada dengan Suryo, Ori Rahman dari Kontras menilai wacana perubahan dari SBY, justru bertentangan dengan kinerja pemerintah. Ini diakibatkan pemerintahan SBY yang lebih mengedepankan kepentingan kekuasaannya, dengan mengakomodir kekuatan politik anti perubahan. "Lihat saja, susunan kabinet yang begitu gemuk dan menteri yang tidak cocok dengan jabatannya", tambah Ori.

Kinerja pemerintah saat ini- kata Raja Nasution - merupakan lips service belaka tanpa ada realisasi. Sehingga SBY bisa dianggap melanggar hukum perdata dikarenakan telah melakukan pengingkaran atas janjinya kepada publik selama kampanye. Sepanjang kampanye, SBY dianggap mengikatkan satu orang atau lebih dengan menyampaikan beberapa janji. "Realisasi janji pemerintah masih jauh dari harapan", tegas Raja.

Persoalan kerja kepolisian dan kejaksaan juga mendapatkan sorotan dari keempat pembicara. Ulung Purnama berkeluh kesah soal kesulitan untuk berkomunikasi dengan kepolisian dan kejaksaan dalam menanggani berbagai masalah."Kami sering kesulitan berkoordinasi dengan kepolisian dan kejaksaan demi penyelesaian kasus yang kami tangani", keluh Untung.

Taufiq- Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Presiden akan Buka Munas HIPMI di Medan
Presiden Berikan Satya Lencana Karya Satya kepada Enam Guru
Munawar Bantah SBY Intervensi Muktamar NU
Presiden Tiba Kembali di Indonesia
Istana Setuju Sahal-Mustofa Pimpin NU
Presiden Buka Muktamar NU Ke-31
Halal Bihalal KAHMI Didatangi Sejumlah Tokoh
Pemerintah Tidak Terancam Jika Akbar Tanjung Terpilih Lagi
Jusuf Kalla di Jakarta, SBY ke Aceh
Pedagang Pasar Tanah Abang Kecewa Pada Presiden
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< December,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data