|
Nasional
Saksi Simpulkan Ba'asyir Amir JI
Kamis, 02 Desember 2004 | 14:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Saksi Bambang Tetuko mengaku kenal dengan Abu Bakar Ba'asyir pertama kali pada sebuah pengajian di Hotel Hayam Muruk, Pekalongan pada 1996. Saat mengikuti pengajian itu, Ba'asyir memberikan ceramah umum tentang agama. Demikian kesaksian Bambang dalam sidang perkara Ba'asyir yang digelar, Kamis (2/12) di Auditorium Departemen Pertanian.
Bambang menyatakan, baru mengetahui kelompok Ba'asyir itu bernama Jamaah Islamiah, pada sekitar 1996. Padahal dia telah dibaiat pada 1989. Dia mengetahui nama JI itupun dari cerita teman-temannya. Berdasarkan kata teman-temannya pula ia mengetahui Ba'asyir adalah Amir JI pasca wafatnya Abudullah Sungkar.
Bambang mengaku tidak pernah mendengar langsung dari Ba'asyir bahwa ia adalah pimpinan JI. Namun Bambang menyimpulkan benar Ba'asyir adalah Amir JI dari sebuah pengajian di Bogor. Pada pengajian di Bogor sekitar 2000 itu, menurut Bambang sempat seorang anggota bertanya kepada Ba'asyir mengapa ia menjadi Amir JI tapi menjadi Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) juga. Saat itu, kata Bambang, Ba'asyir hanya menjawab, "pada keduanya terdapat maslahat sendiri-sendiri".
Bambang pernah mengikuti pelatihan militer di Moro pada 1999. Ia berada disana selama 3,5 bulan disatu tempat yang bernama Kamp Hudabiyah. Menurutnya, tidak ada yang memerintahkan dirinya pergi kesana, ia hanya ditawarkan Ketua Wakalah, Sartono. Di Hudabiyah Bambang tidak pernah bertemu Ba'asyir.
Setelah ia kembali ke Indonesia, ia menjalani rutinitasnya seperti semula yaitu mengajar. Bambang mengaku tidak mengetahui sedikitpun isi pertemuan yang dilakukan di rumahnya di Semarang. Menurutnya, seorang teman yang bernama Junaidi yang meminjam rumahnya untuk pertemuan itu. Hadir dalam pertemuan alumni pelajar di Pakistan itu sejumlah delapan orang. Bambang mengaku hanya mengenal dua diantaranya yaitu Qital dan Basir.
Abu Bakar Ba'asyir membantah kesaksian Bambang. Menurutnya, pada 1996 ia masih berada di Malaysia. "Saya belum berani pulang ke Indonesia karena Suharto dan LB Murdani masih hidup," katanya. Karenanya, Ba'asyir tidak tahu menahu sedikitpun tentang pengajian di Pekalongan seperti yang diakui Bambang. Demikian pula pengajian di Bogor. Pada pertengahan 2000, kata Ba'asyir ia tengah sibuk mengikuti kongres MMI di Yogyakarta. Mengenai JI, Ba'asyir kembali menegaskan dirinya tidak tahu menahu soal itu.
Khairunnisa - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|