|
Nasional
Perempuan Dayak Korban Perkosaan Berunjuk Rasa
Kamis, 02 Desember 2004 | 13:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Lima orang perempuan Dayak korban perkosaan petinggi PT Kelian Equatorial Minning (KEM) berdemonstrasi di depan Istana Merdeka, Kamis (2/12). Mereka diperkosa sekitar 1987 lalu.
Menurut kordinator aksi, Edward MS, pemerkosaan yang menimpa 20-an wanita itu terjadi ketika mereka sedang melamar pekerjaan di PT KEM. "Mereka masuk lokasi karena akan melamar pekerjaan, tetapi kemudian diperkosa," ujarnya. Ia menambahkan para pemerkosa itu bukanlah orang Indonesia melainkan orang asing.
Natasya Rireq yang berorasi dalam aksi itu, membawa serta bukti hasil perkosaan. Bukti tersebut adalah, seorang bocah lelaki berumur tujuh tahun, berwajah Indo. Akibat lahirnya bocah itu, Natasya ditinggal pergi suaminya.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 11.30 WIB, rencananya akan dilanjutkan ke Komnas HAM. Karena menurut Edward, perkosaan yang dialami mereka juga merupakan pelanggaran HAM.
Untuk diketahui, para perempuan itu melamar pekerjaan di PT KEM karena telah kehilangan mata pencaharian mereka sebagai penambang emas.
Pada 1987, PT KEM, sebuah perusahaan pertambangan emas mengambil alih lahan garapan mereka di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Ganti rugi yang mereka berikan untuk pengambilalihan itu adalah Rp 2 juta. Menurut mereka, cara yang dilakukan PT KEM tidak manusiawi, seperti dengan cara intimidasi, pembakaran rumah, dan penggusuran.
Pada saat ini, sesuai dengan keterangan Edward, ada sekitar 1.185 warga korban penggusuran PT KEM yang sedang melakukan aksi demostrasi di DPRD Kutai. Menurutnya, sebenarnya mereka berencana melakukan aksi tersebut di Jakarta bersama-sama dengan wanita korban perkosaan, namun karena keterbatasan dana, rencana itu terpaksa dibatalkan.
Indriani - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|