|
Nasional
Komisi Transportasi: Cuaca Penyumbang Terbesar dalam Kecelakaan
Kamis, 02 Desember 2004 | 05:03 WIB
TEMPO Interaktif, Solo: Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum dapat memberikan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan MD 82 Lion Air yang terjadi Selasa (30/1) kemarin. Ada berbagai kemungkinan penyebabnya, namun konstribusi terbesar kecelakaan yang menyebabkan tewasnya sedikitnya 26 penumpang dan awak pesawat ini dikarenakan faktor cuaca. Hanya saja belum jelas cuaca seperti apa yang membuat captain pilot Dwi Mawastoro kehilangan kendali saat melakukan landing.
?Dari data awal konstribusi paling besar dalam kecelakaan ini adalah faktor cuaca. Ini yang paling besar. Dari pesawat approach, tidak ada tanda-tanda kerusakan pesawat sama sekali, kemudian dari TKP (tempat kejadian) kami melihat bahwa refest trust juga berfungsi dengan bagus, dan dari percakapan di radio juga tidak ada komplaining di pesawat,? kata Ketua KNKT, Setio Raharjo saat memberikan laporan kepada Menteri Perhubungan di Bandara Adi Sumarmo Solo, Rabu (1/12) malam.
Meski menyebut faktor cuaca sebagai faktor yang memiliki konstribusi besar dalam kecelakaan, namun Komisi Transportasi belum dapat menyebutkan cuaca seperti apa yang menyebabkan gagalnya pendaratan pesawat. Dari penyelidikan diketahui, jarak pandang pilot masih mampu menjangkau hingga 2 kilometer. Demikian pula dengan kecepatan angin juga hanya sekitar 6 knot/jam. ?Saya katakan faktor cuaca membuat sulit melihat jarak pandang, memang masih ada jarak pandang sampai 2 kilometer. Makanya penyebabnya baru bisa terbaca dari blackbox,? tukasnya.
Alasan cuaca sebenarnya agak meragukan mengingat sekitar 15 menit sebelumnya, pesawat Garuda dari Jakarta berhasil mendarat mulus di landasan yang sama. Tidak heran apabila hal itu memunculkan sejumlah spekulasi seperti keengganan pilot menggunakan perangkat ILS (Instrumen Landing System) dalam pendaratannya. Sejumlah sumber (di kalangan TNI AU) menyebutkan bahwa pilot tersebut mendaratkan pesawat secara manual dan tidak memanfaatkan panduan dari menara kontrol.
?Dari keterangan saksi, menara kontrol memberikan guide dan pilot melaporkan run way in side. Kita tidak mau berandai-andainya, tapi harus faktual. Juga harus diketahui betul bagaimana mesinnya, keadaannya sayapnya bagaimana dan sebagainya. Itu yang masih harus diteliti. Kalau dari visualnya tadi, breakfast trustnya pada mesin berfungsi dengan baik. Tunggu saja hasil penyelidikannya, kalau black box sudah terbaca akan ketahuan nanti,? kata Setio lagi.
Imron Rosyid?Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|