|
Jawa Tengah
Tragedi Lion Air Dan Duka Seorang Pengantin
Rabu, 01 Desember 2004 | 20:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
’’Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Indah saat Ia mempertemukan. Indah saat Ia menumbuhkan kasih dan indah saat Ia mempertemukan putra-putri kami dalam ikatan perkawinan kudus.’’
Bait itu dicuplik dari Pengkotbah Bab 3 ayat 11, Kitab Perjanjian Lama. Dicetak dengan tinta bewarna keemasan, lalu ditaruh di halaman muka undangan pernikahan dua sejoli ini: Oktova Primasari dengan pemuda idamannya, Jeffry Edison. Pernikahan akan digelar di Gereja Bethel Indonesia, di Widuran, Kota Solo, Sabtu siang pekan ini. Dan resepsi dirayakan di New Ballroom Quality Hotel, malam harinya.
Sekitar 600 undangan ke sanak famili dan handai taulan telah pula dikirim.Busana pengantin, segenap pernak-pernik pernikahan siap sudah. Beres. Tinggal menunggu hari bahagia itu datang. Sebagaimana para pengantin umumnya, Sari- begitu Oktova kerap disapa- tentu saja berbunga-bunga. Jeffry yang masih berada di Jakarta, meluncur ke Solo, Selasa kemarin. Ia masih harus mengikuti beberapa pelajaran di Gereja sebelum pernikahan digelar. Dibekap rindu, Sari menunggu sang pujaan hati.
Tapi nahas itu membuyarkan semuanya. Selasa sore itu, Sari tersentak menyaksikan sebuah stasiun televisi swasta yang menyiarkan tentang kecelakaan pesawat Lion Air di Bandara Adi Sumarno. Hati yang berbunga berubah gulana. Sari terpaku di muka televisi. Ia ingat betul kalau calon suaminya menumpang pesawat itu. Resah, kalut tak karuan. Tapi ia masih berharap sang calon suami selamat. Jantungnya bagai dicopot begitu membaca nama-nama korban tewas di layar televisi. Jeffry tewas.
Tapi mudah-mudahan daftar itu keliru. Sekuat tenaga ia mengusir ketakutannya. Bersama beberapa anggota keluargalanya, Sari menelusuri sejumlah rumah sakit yang digunakan untuk menampung korban luka, juga yang meninggal dunia. Tubuh Sari lunglai begitu melihat sang kekasih tak bernyawa lagi di Rumah Sakti Yarsis, Kota Solo. Tangisnya meledak. Maut itu datang mendahului kebahagiaan yang sejengkal lagi dapat direngkuh.
Sari bermuram durja. Hari ini (Rabu) ia mengantar jenazah calon suaminya ke Jakarta, yang akan dimakamkan di Toraja, Sulawesi Selatan, tanah kelahiran Jeffry.
Kisah cinta dua sejoli ini bermula di Jakarta. Jeffry adalah staf Direktorat Jendral Administrasi Bagian Hukum, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), sedang Sari berkarier sebagai hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Bandung, Jawa Barat. “Yang saya kenal, Jeffry orangnya baik dan supel,’’kata Suparjan, paman Sari, mengenang. Pernikahan yang sedianya digelar Sabtu ini, telah lama dipersiapkan. Sari dan Jeffry sudah sembilan kali mengikuti pelajaran perkawinan digelar gereja. Rencananya di Solo, mereka masih mengikuti konseling terakhir.
Memantangkan persiapan itu, Senin kemarin Sari meluncur duluan ke Solo. Dari Bandung ia naik Kereta Api. Sari sempat merajuk agar Jeffry mau bersama Sari menumpang kereta dari Bandung. “Tapi karena masih ada pekerjaan, Jeffry tidak bisa dan memilih berangkat pakai pesawat,’’ ujar Suparjan. Rencananya sebelum hari pernikahan tiba, pasangan ini mau melihat gedung dan tempat resepsi dirayakan. “Saya tidak menyangka kalau begini jadinya,” ujar Sari sembari menanggis tersedu-sedu.
Duka di tengah persiapan pernikahan, juga dialami pasangan Torong Karo-Karo dengan Endang Sri Suparmi. Dua sejoli ini juga hendak merencanakan pernikahan di Solo, hari ini (Rabu). Semua persiapan juga sudah beres. Orang tua Torong - Raksa Karo-Karo dan Nyonya Bareh Beloh Sembiring – yang menetap di Batam, datang ke Solo menumpang Lion Air yang nahas itu. Nyonya Baren Beloh Sembiring tewas, sedangkan Raksa Karo Karo mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Yarsis, Solo.
Torong Karo Karo dan Endang Sri Suparmi pun mengucapkan janji kesetiaan di depan jenazah Nyonya Baren Beloh Sembiring di Rumah Sakit Yarsis sebelum jenazah dibawa ke daerah asalnya, Batam, untuk dimakamkan. Torong Karo-Karo sendiri saat menjenguk ayahnya di RS Yarsis, beberapa saat setelah melangsungkan pernikahan, terlihat amat terpukul dengan kejadian ini. Ia lebih banyak diam.
Tragedi Lion Air di Kota Solo itu memang memukul banyak orang, terutama yang keluarganya menemui ajal, juga penumpang lainnya. Sari, yang hari-hari ini masih meratap cuma bisa pasrah, “ Tuhan berkehendak lain,”ujarnya lirih.
Anas Syahirul danImron Rosyid--- Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|