Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Muktamar Bahas Aktivitas Jaringan Islam Liberal
Selasa, 30 November 2004 | 21:09 WIB

TEMPO Interaktif, Boyolali: Persoalan aktivitas Jaringan Islam Liberal (JIL) menjadi salah satu pembicaraan hangat dalam Muktamar NU ke-31 di Boyolali. Sejumlah utusan meminta kader NU yang bergerak dalam aktivitas JIL dilarang menjadi pengurus mulai tingkatan paling bawah hingga tingkat pengurus besar. Seruan larangan tersebut mengemuka pada Komisi Tausiyah yang berlangsung, Selasa (30/11).

Mereka beralasan materi yang menjadi kajian JIL telah mencoreng jati diri NU sebagai pewaris Ahlus Sunnah Wal Jamaah. ?Harus ada larangan secara tegas terhadap kegiatan JIL. Dimana sejumlah kader NU menjadi aktivisnya. Muktamar ini harus membuat rekomendasi internal supaya melarang aktivis JIL menjadi pengurus NU. Tidak hanya di tingkat pengurus besar, tapi juga mulai tingkat terbawah,? ungkap Muhaimin Abdul Basri, dari Sampang Madura, yang menjadi seorang pengusul.

Muhaimin dan utusan lainnya mengatakan apa yang dilakukan JIL adalah bentuk penyimpangan terhadap Ahlus Sunnah Wal Jamaah. ?Jangan sampai kegiatan NU digerogoti dengan paham-paham liberal yang sedang menyimpang dari Aswaja. Ini akan membahayakan pendidikan NU,? tambah Muhaimin.

Namun tidak sedikit pula muktamirin yang menanggapi dingin atas usulan pencekalan tersebut. Mereka menilai PBNU boleh saja mengkritisi aktivitas JIL tapi tidak perlu melakukan larangan-larangan. Apalagi sampai mencekal untuk menjadi pengurus NU. ?Saya kira kalau sampai melakukan pelarangan, tidak perlu. Apa yang dilakukan JIL hanyalah perbedaan pemahaman dan pendekatan terhadap dogma. Kalau memang ada kader NU yang aktif dalam lembaga tersebut harus disambut positif juga. Biarkan semua saling berpendapat,? ujar Muhammad Aunnul, utusan dari pengurus cabang istimewa NU Mesir.

Menurutnya, apa yang dilakukan kader NU dengan JIL bukan bentuk penyimpangan Azwaja. ?Itu hanya perbedaan pandangan. Islam jangan dipandang sebagai dogma saja, tapi juga merupakan pemahaman. Kalau sedikit-sedikit dilarang, NU tidak terbuka terhadap pemikiran baru,? kata Aunnul.

Meski suara mereka lebih sedikit, Aunnul berharap hasil komisi Tauziyah dapat mengakomodasi semua pihak. Komisi ini tidak perlu menelurkan pencekalan terhadap kader NU yang aktif di JIL untuk menjadi pengurus.

Pembahasan di Komisi Tauziyah yang dipimpin oleh Solahuddin Wahid dan Cecep Syarifuddin sendiri belum selesai. Usulan-usulan yang muncul dalam komisi ini termasuk pencekalan terhadap aktivis JIL masih dibahas tim perumus.

Anas Sy?Tempo



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tolchah Hasan Yakin Mustafa Bisri Mau Dicalonkan
Nama Mustrofa Bisri Mulai Berkibar
Yusuf Hasyim Temui Mustafa Bisri
Wapres: Subsidi BBM Dicabut Tahun Depan
Komisi Organisasi Diperkirakan Alot
Massa Pendukung Gus Dur Kembali Berunjuk Rasa
Kiai Khos NU Tapalkuda Himbau Muktamirin Tidak Pilih Hasyim Muzadi
Suap PNS Dibahas Dalam Muktamar
Anak Muda NU Gelar Pertunjukan Nahdlatul Uang
Hasyim Muzadi: Alhamdulillah LPJ Diterima
> selengkapnya...


Website

Muslimat NU
NU Online


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data