Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Ansor Kecam Rancangan AD/ART NU yang Sentralistik
Senin, 29 November 2004 | 23:24 WIB

TEMPO Interaktif, Boyolali: Gerakan Pemuda Ansor mengecam draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang disusun panitia pengarah Muktamar NU ke-31, khususnya pasal 17 ayat 4 dan 5. Menurut salah satu Ketua GP Ansor Endang Sobirin, rancangan pasal itu mengandung semangat sentralisasi kekuasaan yang selama ini ditentang arus politik yang berkembang. ?Kami kaget ketika tiba-tiba ada rancangan pasal itu,? ujar Endang, Senin (29/11) malam di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah.

Pasal 17 ayat 4 ART dalam draf itu menyebutkan, ?Ketua Badan Otonom dipilih secara
langsung oleh Kongres Badan Otonom dengan terlebih dahulu mendapatkan
persetujuan Ketua Umuim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.? Adapun ayat 5-nya
berbunyi, ?Ketua Badan Otonom yang melanggar AD/ART bisa diberhentikan Ketua
Umum setelah berkonsultasi dengan Rais Aam serta telah mendapat peringatan
sebanyak 2 kali sebelumnya.?

NU memiliki sejumlah badan otonom. Selain Ansor, organisasi lainnya adalah
Muslimat, Fatayat, Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Putri-
putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Sebelumnya, organisasi-organisasi ini memiliki
otonomi untuk memilih ketua umumnya, tanpa campur tangan Pengurus Besar NU. ?(Karena itu), jika ayat itu dipertahankan, maka NU akan mengalami kemunduran,? ujar Endang. Organisasinya dengan tegas minta rancangan itu dicabut.

Endang menjelaskan, rancangan itu bertentangan dengan maksud pendirian badan
otonom sebagai institusi kaderisasi bagi organisasi NU. Padahal, selama ini PBNU telah berhasil memberikan peluang bagi independensi badan otonom.

Karenanya, Endang, yang mengatasnamakan pimpinan pusat dan pimpinan wilayah Ansor se-Indonesia, mencurigai adanya bias konflik individu yang membuat rancangan ini muncul. Menurut dia, sebaiknya jika ada konflik antara badan otonom dengan organisasi NU, penyelesaiannya dikembalikan pada mekanisme yang ada sebelumnya. Mekanisme baku yang telah ada adalah adanya hubungan ideologis, historis, dan kultural antara organisasi NU dengan badan otonom, dan semua badan otonom secara otomatis menjadi anggota pleno PBNU.

Dalam pengalaman NU, perbedaan pendapat tajam yang sering terjadi adalah
antara Ansor dan PBNU. Ketika Ketua Golkar Slamet Effendy Yusuf menjabat
sebagai Ketua Umum GP Ansor, dia sering berseberangan pandang, khususnya
tentang kiprah dalam partai politik, dengan Abdurrahman Wahid yang ketika itu
menjadi Ketua Umum PBNU.

Thonthowi ? Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Hasyim Bantah Libatkan NU dalam Pemilu Presiden
Greg Barton : NU Tandingan Upaya Negosiasi
Greg Barton: Peluang Hasyim Muzadi Besar
Menanggapi Pertangungjawaban Hasyim Muzadi, Peserta Muktamar Terbelah
Hasyim Muzadi Tinggalkan Rp 5,5 Miliar Untuk Pengurus Baru
Pidato LPJ Hasyim Muzadi Disambut Unjuk Rasa
Pembacaan LPJ Hasyim Muzadi Mendadak Maju
Kaum Muda NU Tolak Politisasi Muktamar
Para Kiai Sepuh Kirim Utusan Temui Tiga Tokoh NU
Sore Ini, Hasyim Muzadi Bacakan LPJ
> selengkapnya...


Website

NU Online


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Penumpang Pesawat Spanyol Ceritakan Keajaiban
Wakil Gubernur Bahas Bantar Gebang dengan Bekasi
Alokasi Anggaran Daerah Dinilai Terlalu Kecil
Star Trek di Konsol Game
Sony Perkenalkan PS3 160 Gigabita

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data