|
Menanggapi Pertangungjawaban Hasyim Muzadi, Peserta Muktamar Terbelah
Senin, 29 November 2004 | 15:51 WIB
TEMPO Interaktif, Boyolali/b>:Pidato pertanggungjawaban Ketua Umum Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, mendapat tanggapan beragam dari sejumlah peserta muktamar. Delegasi dari Kabupaten Nabire Papua, misalnya, menyatakan pidato Hasyim Muzadi amat bagus dan sangat layak diterima. Sementara utusan dari Pengurus Wiliayah Bali, menyatakan pertanggungjawaban Hasyim sangat normatif, bahkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Ketua tanfidz Pengurus Cabang Nabire, AF Maftukhin, mengatakan bahwa selama dipimpin Hasyim Muzadi organisasi NU semakin tertata. Sebelumnya, kata dia, NU hanya besar di namanya saja tetapi struktur organisasi NU tidak teratur. Kepemimpinan Hasyim Muzadi punya perhatian serius sehingga aktivitas NU mulai dari tingkat wilayah hingga cabang, bahkan anak cabang, semakin hidup. “Selama lima tahun ini, koordinasi dengan pengurus, baik wilayah dan PBNU terus berjalan. Bidang-bidang yang lain seperti lajnah dan maarif juga terbina dengan baik. Jadi apa yang disampaikan Hasyim Muzadi dalam pertanggungjawaban itu memang sudah objektif,” kata Maftukhin.
Dipuji oleh deleasi Nabire, tapi dicerca oleh delegasi wilayah NU Bali. Bendahara PWNU Bali, H Hadi Sutrisno, mengemukan bahwa pidato Hasyim Muzadi hanya manis di bibir tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Pernyataan Hasyim bahwa dirinya masih mendapat dukungan mayoritas umat NU, kata Hadi, jelas klaim sepihak yang tidak ada buktinya.
“Kalau dia didukung oleh mayoritas umat NU, mestinya dia menang dalam pemilihan presiden langsung kemarin. Tetapi nyatanya dia kalah dan itu artinya dia tidak mendapat dukungan mayoritas umat NU. Kalau mendapat dukungan mayoritas pengurus struktural itu memang benar karena sebagian besar pengurus NU baik di tingkat wilayah maupun cabang, ikut menjadi tim sukses saat kampanye pilpres kemarin,” tutur Hadi.
Ditanya tentang program kerja Hasyim lainnya, menurut Hadi memang banyak aktivitas selama Hasyim menjadi Ketua Umum PBNU periode 1999-2004. “Tetapi bagi saya, itu adalah kemarau setahun sirna oleh hujan sehari. Jadi apa yang dilakukan Hasyim akhirnya sia-sia oleh kesalahannya itu. Apalagi saat dia maju sebagai calon wakil presiden, umat NU terpecah,” kata Hadi.
Dari provinsi Bali, kata dia, terdapat 10 suara yaitu sembilan cabang dan satu pengurus wilayah. Dari sembilan cabang yang ada, kata dia, kelihatan lebih condong untuk menolak Hasyim Muzadi. Sementara suara pengurus wilayah, sangat kuat untuk mendukung Hasyim.
“Tadi PWNU Bali sudah mengumpulkan seluruh delegasi dari cabang-cabang. Ketua PWNU membebaskan kepada cabang untuk menentukan pilihannya. Nah untuk soal pandangan pertanggungjawaban Hasyim Muzadi, jika PWNU menerima tanpa memberi catatan, kita akan mempermasalahkan di forum koordinasi wilayah,” kata Hadi.
Syaiful Amin-- Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|