Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Bukan Semata Gerakan Moral
Senin, 29 November 2004 | 15:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Gerakan budaya mendukung pendidikan yang menyisipkan substansi ibadah membutuhkan waktu yang panjang. Namun demikian menurut Ketua Institute for Science and Technology Static Studies (ISTECS), Mulyanto, gerakan kultural adalah upaya yang efektif. Biarpun memakan waktu panjang, menurut Mulyanto, "tapi kita tidak boleh meremehkannya,” tegas Mulyanto usai membuka deklarasi Pendidikan adalah Ibadah di Hotel Sahid, Jakarta Senin (29/11).

Deklarasi ini merupakan kelanjutan dari sarasehan nasional yang diikuti 150 pemerhati pendidikan dari Pulau Jawa, Sumatera, Lombok dan Sulawesi. Mereka berasal dari kalangan LSM Pendidikan, tokoh-tokoh agama, dan lembaga pendidikan.

Menyambut acara tersebut, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyatakan deklarasi tesebut bukan hanya gerakan moral. Menurut Hidayat, gerakan moral biasanya mentok sebatas himbauan. Padahal, deklarasi kali ini mengerucut pada tindakan nyata, sebab dilakukan kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, Organisasi Masyarakat dan Lembaga Pendidikan.

"Intronya adalah moral, tapi akan ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan-kebijakan," Hidayat. Lebih jauh, Hidayat memandang pendidikan sebagai sebuah kewajiban dasar individu yang diperintahkan oleh tiap agama. “Agama apapun, mewajibkan umatnya untuk mendapat pendidikan yang berkualitas. Kata Hidayat. Oleh karenanya, menurut Hidayat, peningkatan pendidikan harus menggunakan pendekatan baru. Yakni "pendekatan bahwa pendidikan adalah salah satu cara beribadah kepada Tuhan," ungkap Hidayat.

Hidayat menambahkan bahwa di Indonesia, Undang-Undang dan keputusan pemerintah tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) telah menekankan unsur iman dan taqwa didalamnya. “Tinggal bagaimana masyarakat dapat mengapresiasi dalam beragam kegiatan, ini sudah jadi bagian dari regulasi kita, tinggal segera dilaksanakan," katanya.

Deklarasi ini dipandang Hidayat merupakan bagian dari tuntutan publik, agar pemerintah segera mewujudkan UU Sisdiknas yang telah disahkan dalam kerangka yang sedemokratis mungkin. Mengenai kegiatan kongkrit selepas deklarasi, Hidayat menyatakan, “hal itu sangat terkait dengan kebijakan dari pemerintah.” Lebih dari itu, deklarasi dipandang Hidayat sebagai momentum yang baik untuk mengingatkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan seluruh aktivis pendidikan nasional agar mendekati pendidikan secara lebih serius.

Bentuk keseriusan itu salah satunya menurut Hidayat adalah memandang pendidikan secara utuh dan terpadu. “Tidak membedakan antara sains, teknologi, sosial dan agama,” kata Hidayat. Dan kalau itu semua dilakukan, Hidayat yakin, “Insya Allah akan memberi pilar yang kokoh bagi bangsa ini untuk keluar dari krisis," kata Hidayat.

Eworaswa, Ariyani

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data