|
Nasional
TNI AD Butuh Alat Komunikasi dan Radar
Senin, 29 November 2004 | 12:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah sebelumnya TNI Angkatan Laut mengaku kekurangan senjata infanteri, kini giliran TN Angkatan Darat. Adalah Kepala Staf Angkatan Darat, Ryamizard Ryacudu yang menyebut kalau saat ini, TNI AD butuh peralatan. Ditemui disela-sela penutupan latihan bersama Angkatan Darat Indonesia dan Singapura, Senin (29/11) di pusat latihan tempur Paliyan, Wonosari, Gunung Kidul Yogyakarta, Ryamizard mengatakan bahwa yang paling dibutuhkan TNI AD saat ini adalah alat komunikasi dan radar.
Soalnya, peralatan komunikasi dan radar yang kii dimiliki TNI AD, sudah ketinggalan canggih kalau dibandingkan alat sejenis yang dimiliki negara tetangga, seperti Singapura. Ryamizard menegaskan, peralatan TNI AD memang perlu dimodernsasi. Tapi untuk merealisasikannya, Ryamizard menyerahkan hal ini pada putusan pemerintah. "Agar canggih atau tidak, saya tidak punya kewenangan apa-apa, tergantung negara untuk mewujudkannya,? kata Ryamizrad.
Bercermin dari pameran peralatan pertahanan yang baru ditutup Sabtu lalu (27/11), Ryamizard amat menyayangkan kondisi peralatan pertahanan tentara Indonesia yang jauh ketinggalan dibanding negara-negara lain. Padahal kata Ryamizard, seharusnya peralatan-peralatan mutakhir digunakan pertama kali oleh tentara, bukan menggunakan peralatan bekas seperti yang sekarang terjadi. "Kalau di negara maju, produk yang paling mutakhir itu digunakan tentara duluan, bekasnya baru dipakai orang lain, nah di Indonesia malahan terbalik," ujar KASAD sambil tersenyum.
Biar begitu, menurut Ryamizard, Indonesia harus pintar memilih teknologi canggih yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia. Ryamizard kemudian memberi contoh, walaupun banyak tank-tank bagus yang dipamerkan negara-negara luar saat pameran peralatan pertahanan, tidak semuanya cocok digunakan di Indonesia. "Misalnya tank dari Rusia atau Cina yang beratnya sampai 40 ton, itu nggak cocok, yang cocok misalnya tank Scorpion yang beratnya hanya 15 ton," kata Ryamizard.
Ditaya soal adu tembak aparat TNI dan Brimob di Aceh beberapa hari lalu, Ryamizard meminta peristiwa ini tidak diungkit lagi. "Itu sudah selesai jangan dikutip, nanti ada orang yang merasa diadu domba," katanya. Ryamizard menilai peristiwa mengenaskan in terjadi salah satunya karena terlambatnya rotasi pasukan dilakukan. "Mestinya paling lama enam bulan harus sudah harus diganti, ini ada yang sudah 16 bulan belum dirotasi,? kata Ryamizard.
Sunariah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|