|
Nasional
17 Tahun HIV, Masih Ada Diskriminasi Terhadap Penderita AIDS
Senin, 29 November 2004 | 02:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah 17 tahun Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan, diskriminasi terhadap penderita Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS), menurut Baby Jim Aditya, aktivis AIDS, masih banyak.
Dalam peringatan Hari AIDS sedunia (01/12)setelah 17 tahun, seharusnya sudah lebih baik. "Masih ada kasus diskriminasi dari pihak keluarga penderita, rumah sakit, dan lapangan pekerjaan saat ini,"kata Baby.
Padahal, menurut Baby, diskriminasi terhadap penderita menimbulkan frustasi, apalagi jika diskriminasi datang dari pihak keluarganya sendiri. Contoh kasus terbaru yang dilihat Baby adalah tidak diterimanya seorang tahanan berusia 26 tahun yang baru saja keluar dari penjara. Keluarga tidak mau menerimanya dengan alasan yang dibuat-buat. Dan mereka melimpahkannya ke tempat penampungan.
Itu hanya satu contoh. Padahal pihak yang terlibat dalam penanggulangan AIDS, selain penderita, adalah keluarga, masyarakat, dan pemerintah. "Namun setelah 17 tahun HIV ditemukan sebagai epidemi, yang terjadi hanya saling menyalahkan," kata Baby.
Tren peringatan hari AIDS sedunia tahun ini adalah Women, Girls, dan HIV-AIDS. Wanita tidak beresiko HIV, menurut Baby, justru rentan terkena virus mematikan ini. Wanita ini besar sekali kemungkinannya tertular dari suaminya yang terkena HIV. Menurut Baby, dari data Family Health International, 8-10 juta suami di Indonesia adalah pengguna jasa pekerja seks. "Bayangkan jika suaminya menularkan HIV ke istrinya, berarti ada 8-10 juta wanita yang terkena HIV," kata Baby. Itupun, kalau suami tersebut punya satu istri. "Kalau istrinya lebih dari satu?"lanjut Baby.
Sedangkan untuk remaja putri, kerentanan tertularnya HIV berkaitan dengan kekuasaan ekonomi, sosial, dan gender. "Remaja putri tidak punya bargaining power terhadap pacarnya," kata Baby. Mereka tidak bisa bernegosiasi dengan sang pacar. Dan bila remaja putri ini tertular HIV, masyarakat tetap mempersalahkan mereka.
Indonesia merupakan negara yang pertumbuhan kasus HIV-nya salah satu tercepat di dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor determinan. Antara lain, faktor kemiskinan. Faktor ini berdampak langsung terhadap kurangnya skill masyarakat yang menyebabkan rendahnya tingkat pekerjaan. Faktor lain adalah kurangnya pendidikan mengenai gender, dan kurangnya akses pengecekan serta pengobatan.
Daerah-daerah rawan di Indonesia antara lain Papua, Jakarta, Batam. Penanganan masalah HIV di daerah ini tentunya berbeda-beda, menurut Baby. Di Papua misalnya, kultur yang digunakan harus sesuai dengan kultur setempat. Contohnya, beberapa adat di Papua menilai perempuan lebih rendah daripada babi. Dengan kultur seperti ini, berganti pasangan lebih dari satu adalah hal yang wajar di Papua. Belum lagi tingkat alcoholism yang tinggi di Papua.
Lain lagi dengan Batam. Penanganan HIV di Batam harus disesuaikan dengan fakta bahwa setiap weekend, contohnya, pengguna pekerja seks sangat banyak berdatangan. Mereka datang dari Thailand atau Singapura. Di Jakarta, dengan tingginya penyalahgunaan narkoba, ada 3 hal yang berisiko. Risiko ini antara lain digunakannya jarum yang tidak steril beramai-ramai/bergantian. Kemudian dilakukannya hubungan seks yang tidak aman dengan grup narkobanya. Dan dilakukannya hubungan seks dengan orang-orang di luar grup pencandu. Akses untuk mendapatkan narkoba juga mudah diperoleh di Jakarta.
Peran pemerintah sampai saat ini, menurut Baby, masih belum kelihatan, tingkatnya hanya sebatas wacana. Sedangkan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), masih terbentur masalah dana. LSM-LSM memperoleh dana dari badan-badan internasional. Jumlahnya pun kecil. Belum lagi adanya kepentingan-kepentingan sendiri dalam pendanaan. "Yang dikejar pemberi dana hanya kuantitas, kepentingannya berpusat pada kepentingan untuk pelaporan,"kata Baby.
Kemarin (28/11) ratusan orang mengikuti jalan sehat dalam rangka kampanye anti AIDS. Jalan kaki dari Gelora Bung Karno ke Air Mancur Bundaran HI, diikuti berbagai elemen masyarakat pendukung hidup sehat.
Fanny Febiana
INDEKS BERITA LAINNYA :
|