|
Nasional
Perang Selebaran di Arena Muktamar
Minggu, 28 November 2004 | 22:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perang selebaran antar calon kandidat mulai nampak di arena Muktamar Nu ke-31, Asrana Haji Donuhudan. Perang selebaran itu di lakukan oleh tim sukses masing-masing calon. Mereka memberikan selebaran pada para peserta Muktamar yang sedang duduk dan beristirahat di dalam kamar maupun gedung tempat berkumpulnya para muktamirin, terutama di ruang Jeddah.
Sampai saat ini Tempo sudah mendapatkan dua selebaran. Salah satunya mengatasnamakan keluarga pendiri NU dan yang kedua berupa Buletin Kabar Nahdliyin yang diterbitkan warga NU. Selebran dari keluarga pendiri NU berisi ajakan dan wanti-wanti pada muktamirin agar jangan berkhianat pada perjuangan NU. Yang kedua siapa yang berkhianat maka akan kualat. Dan pesan ketiga pada para muktamirin dihimbau agar memilih para ulama yang bisa mengemban alamat Khittah 26 dan tidak berambisi pada kedudukan dan jabtan. "Jangan ambisi kedudukan dan jabatan. Embanlah amanat umat," tulis selebaran itu dengan tulisan miring.
Wanti-wanti keempat menyebutkan dalam selebaran ini menyuruh muktamirin agar tidak memilih KH hasyim Muzadi dengan alasan Hasyim sudah dua kali menjabat ketua PB NU dan sekarang butuh regenerasi. Namun tulisan ini tidak benar yang benar Hasyim baru sekali menjabat sebagai ketua PB NU.
Pesan selanjutnya meminta pada pengurus yang terpilih jika menjabat dimohon agar tiadak mengkhianati NU dan menjungjung tinggi keputusan Rois Am Syuriah, lembaga tertinggi dalam NU.
Sementara selebaran kedua yang berbentuk buletin tidak banyak menyinggung nama calon tapi buletin itu berisi sebuah protes dan penilaian bahwa muktamar telah ternoda. Hal itu disebabkan banyaknya kyai sepuh yang tidak diundang. Kyai sepuh yang tidak diundang diantaranya adalah KH Yusuf Hasyim, KH Ahmad Sofyan Situbondo, KH Kotib Umar Jember dan KH Mas Subadar. Para kyai ini tadi siang sempat protes bersama Gus Dur dengan jalan kaki menuju arena muktamar.
Menanggapi adanya selebaran yang menyudutkan salah satu calon pimpinan NU, Rusli Sulaiman Wakil Khatib suriah PW NU Aceh menilai, sebagai warga NU yang dibesarkan di NU dirinya tidak sependapat dengan selebaran apalagi selebaran itu mengatasnamakan pendiri NU. Padahal menurutnya pendiri NU bukan hanya Hasyim Ashyari tapi ada Wahab Hasybullah dan sejumlah Kyai di Jombang dan Surabaya. "Ini sudah menjurus pada fitnah yang tidak sehat,"kata Rusli. Menurutnya siapa yang benar perlu dikaji dalam muktamar. Ia mengaku akan mendukung Hasyim secara penuh.
Namun Wakil Ketua PW NU Jawa Timur Nurdin A. Rahman menanggapi dingin selebaran itu. Menurutnya dalam setiap pergantian kepemimpinan di NU sudah biasa terjadi pro dan kontra. "Ini biasa dalam demokrasi. Kalau ngga begini muktamar adem ayem," katanya. Yang penting, menurut anggopta DPD dari Jatim ini selebaran itu tidak menjelek-jelekkan lawan politiknya karena akan dibalas dengan menjele-jelekkan. Akibatnya elit-elit NU menjadi jelek. "Akhirnya siapa yang baik di NU jelek semua," tegas Nurdin.
Selain itu yang terpenting dalam muktamar ini siapapaun yang terpilih secara demokratis harus diterima semua pihak karena muktamar adalah arena tertinggi di NU. Warga NU harus mempertahankan keutuhan NU. "Keutuhan lebih penting dari pada kemajuan, kami ingin NU maju dan utuh," papar dia menandaskan.
Adi Mawardi-Tempo
Perang selebaran antar calon kandidat mulai nampak di arena Muktamar Nu ke-31, Asrana Haji Donuhudan. Perang selebaran itu di lakukan oleh tim sukses masing-masing calon. Mereka memberikan selebaran pada para peserta Muktamar yang sedang duduk dan beristirahat di dalam kamar maupun gedung tempat berkumpulnya para muktamirin, terutama di ruang Jeddah.
Sampai saat ini Tempo sudah mendapatkan dua selebaran. Salah satunya mengatasnamakan keluarga pendiri NU dan yang kedua berupa Buletin Kabar Nahdliyin yang diterbitkan warga NU. Selebran dari keluarga pendiri NU berisi ajakan dan wanti-wanti pada muktamirin agar jangan berkhianat pada perjuangan NU. Yang kedua siapa yang berkhianat maka akan kualat. Dan pesan ketiga pada para muktamirin dihimbau agar memilih para ulama yang bisa mengemban alamat Khittah 26 dan tidak berambisi pada kedudukan dan jabtan. "Jangan ambisi kedudukan dan jabatan. Embanlah amanat umat," tulis selebaran itu dengan tulisan miring.
Wanti-wanti keempat menyebutkan dalam selebaran ini menyuruh muktamirin agar tidak memilih KH hasyim Muzadi dengan alasan Hasyim sudah dua kali menjabat ketua PB NU dan sekarang butuh regenerasi. Namun tulisan ini tidak benar yang benar Hasyim baru sekali menjabat sebagai ketua PB NU.
Pesan selanjutnya meminta pada pengurus yang terpilih jika menjabat dimohon agar tiadak mengkhianati NU dan menjungjung tinggi keputusan Rois Am Syuriah, lembaga tertinggi dalam NU.
Sementara selebaran kedua yang berbentuk buletin tidak banyak menyinggung nama calon tapi buletin itu berisi sebuah protes dan penilaian bahwa muktamar telah ternoda. Hal itu disebabkan banyaknya kyai sepuh yang tidak diundang. Kyai sepuh yang tidak diundang diantaranya adalah KH Yusuf Hasyim, KH Ahmad Sofyan Situbondo, KH Kotib Umar Jember dan KH Mas Subadar. Para kyai ini tadi siang sempat protes bersama Gus Dur dengan jalan kaki menuju arena muktamar.
Menanggapi adanya selebaran yang menyudutkan salah satu calon pimpinan NU, Rusli Sulaiman Wakil Khatib suriah PW NU Aceh menilai, sebagai warga NU yang dibesarkan di NU dirinya tidak sependapat dengan selebaran apalagi selebaran itu mengatasnamakan pendiri NU. Padahal menurutnya pendiri NU bukan hanya Hasyim Ashyari tapi ada Wahab Hasybullah dan sejumlah Kyai di Jombang dan Surabaya. "Ini sudah menjurus pada fitnah yang tidak sehat,"kata Rusli. Menurutnya siapa yang benar perlu dikaji dalam muktamar. Ia mengaku akan mendukung Hasyim secara penuh.
Namun Wakil Ketua PW NU Jawa Timur Nurdin A. Rahman menanggapi dingin selebaran itu. Menurutnya dalam setiap pergantian kepemimpinan di NU sudah biasa terjadi pro dan kontra. "Ini biasa dalam demokrasi. Kalau ngga begini muktamar adem ayem," katanya. Yang penting, menurut anggopta DPD dari Jatim ini selebaran itu tidak menjelek-jelekkan lawan politiknya karena akan dibalas dengan menjele-jelekkan. Akibatnya elit-elit NU menjadi jelek. "Akhirnya siapa yang baik di NU jelek semua," tegas Nurdin.
Selain itu yang terpenting dalam muktamar ini siapapaun yang terpilih secara demokratis harus diterima semua pihak karena muktamar adalah arena tertinggi di NU. Warga NU harus mempertahankan keutuhan NU. "Keutuhan lebih penting dari pada kemajuan, kami ingin NU maju dan utuh," papar dia menandaskan.
Adi Mawardi-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|