|
Nasional
Gus Mus Belum Tentukan Sikap
Minggu, 28 November 2004 | 13:44 WIB
TEMPO Interaktif, Boyolali: Salah satu calon yang banyak disebut akan menjadi pesaing utama Hasyim Muzadi dalam pemilihan ketua umum PBNU, KH Mustofa Bisri, tak yakin pernyataan Rais Aam KH Sahal Mahfudz adalah untuk mengkritik Hasyim. Tapi, dia juga tidak yakin khutbah Kiai Sahal adalah untuk mendukungnya.
Dia mengakui bahwa NU di bawah kepemimpinan Hasyim memang lebih dekat dengan politik praktis. "Tapi bukan berarti mereka-mereka yang selama ini dekat dengan politik praktis tak boleh maju atau jadi pengurus lagi," ujarnya
seusai pembukaan Muktamar NU ke-31 di Asramaji Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah.
Dalam pidato iftitah-nya (pembukaan), Kiai Sahal mengutarakan, pengalaman pahit yang dialami NU disebabkan kurang konsitennya warga NU memegang khittah NU untuk tidak berpolitik praktis. Menurut dia, politik praktis
disamping sering merepotkan NU dan warganya, juga tak bisa membuat warga NU optimal melaksanakan politik kebangsaan dan kerakyataan.
Hal itu terjadi, kata Kiai Sahal, karena keterlibatan warga NU dalam politik praktis tidak disertai sikap kenegarawanan, penguasaan yang memadai terhadap
seluk beluk politik. Mereka semua, menurut dia, lebih mengandalkan pada dukungan NU, dan lebih parah lagi tanpa memperhatikan khittah NU dan kepentingan NU sendiri.
Gus Mus lebih memahami khotbah Kiai Sahal itu sebagai peringatan untuk semua kalangan yang ingin aktif menjadi ketua umum atau pengurus NU. "Mungkin yang dulu membawa NU ke dalam politik praktis terus sadar setelah mendengar
khutbah itu," ujarnya.
Tapi, menantu Gus Mus, Ulil Abshar Abdalla berpendapat lain. Menurut dia, khutbah Kiai Sahal sudah jelas menjadi petunjuk bagi muktamirin untuk memilih siapa yang layak menjadi ketua umum. Namun, soal apakah nanti mertuanya akan mampu bersaing dengan Hasyim, Ulil menyebut ada satu faktor penting lainnya. "Semua tergantung mobilisasi pendukungnya," ucapnya.
Tentang keinginan sejumlah warga NU yang mencalonkannya, Gus Mus belum juga memastikan kesediaannya. "Pendukung saya memang banyak. Luar biasa. Tapi mereka semua itu tak punya hak suara..ha..ha..," ucapnya.
Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Idris Marzuki, yang mendukung Hasyim, punya penilaian yang sama dengan Gus Mus. "Khutbah itu bukan khusus untuk Pak Hasyim," ucapnya. Dia yakin, Kiai Sahal masih berkenan bersanding dengan Hasyim dalam kepengurusan NU mendatang.
Thonthowi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|