|
Nasional
Kiai Sepuh Pendukung Hasyim Muzadi Konsolidasi
Minggu, 28 November 2004 | 12:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Tak lama setelah Muktamar Ke-31 resmi dibuka, Minggu (28/11), di Asrama Haji, Donohudan, Boyolali, sejumlah kiai sepuh yang mendukung Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum PBNU berkumpul di ruang belakang panggung utama. Para kiai yang dimotori KH Idris Marzuki dari Lirboyo, Kediri dan KH Masduqi Mahfudz dari Malang langsung menggelar konferensi pers untuk menyatakan dukungan resmi kepada Hasyim. Mereka menegaskan kembali mendukung KH Sahal Mahfudz sebagai Rais Aam.
Kiai Masduki juga menerangkan mengapa kiai-kiai tak mendukung KH Mustofa Bisri. "Gus Mus (sapaan KH Mustofa Bisri) itu adik saya. Dia bukan seorang organisatoris. Dia itu budayawan," ujarnya. Selain itu, kata dia, Gus Mus dilarang ibunya maju, karena tak ada lagi yang menjaga pondok pesantrennya di Rembang, Jawa Tengah, sepeninggal kakaknya, KH Cholil Bisri.
Para kiai lain yang mendukung Hasyim antara lain adalah KH Muchit Muzad dari Jember, KH Muttawakil dari Genggong,
Probolinggo; KH Zainudin Jazuli dari Ploso, Kediri, KH Fawaid As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo, dan KH Iskandar SQ, dari Jakarta.
Para kiai ini berseberangan pendapat dengan sejumlah kiai sepuh lainnya yang mendukung paket KH Abdurrahman Wahid sebagai calon Rais Aam dan Gus Mus sebagai Ketua Umum PBNU. Mereka ini antara lain KH Abdullah Faqih dari
Langitan, Tubah; KH Warsun dari Krapyak, Yogyakarta; dan KH Muhaiminan Gunardo, Temanggung.
Ketika ditanya apakah para kiai akan siap saling "bertempur" dalam pemilihan Rais Aam dan ketua umum nanti, KH Muchit Muzadi menjawab dengan diplomatis. "Di NU itu biasa gegeran (bertengkar). Tapi biasanya akan berakhir dengan ger..ger-an (tertawa bersama)," ujar kakak Hasyim Muzadi.
Baik Muchit, Masduki dan Idris Marzuki tak yakin NU akan pecah, kendati Gus Dur, panggilan Abdurrahman Wahid mengancam akan mendirikan NU tandingan, jika Hasyim terpilih lagi menjadi ketua umum. "Kalau mau bikin tandingan, kenapa tidak sekarang saja? Mengapa mesti menunggu muktamar," ujar Muchit.
Thonthowi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|