Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Gus Dur: NU Tandingan Pemikiran Kyai Sepuh yang Menolak Politik Praktis
Jum'at, 26 November 2004 | 23:13 WIB

TEMPO Interaktif, Rembang:Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan, wacana pembentukan NU tandingan merupakan wacana yang digulirkan oleh para kyai sepuh yang disampaikan kepadanya.

Ancaman pendirian NU tandingan, lanjutnya, merupakan kritik terhadap upaya membawa NU ke wilayah politik praktis. “Kalau NU dibawa ke arah politik praktis, para kyai memerintahkan saya mendirikan NU tandingan,” kata Gus Dur kepada wartawan ketika berkunjung di kediaman KH Musthofa Bisri, Leteh, Rembang, Jateng, Jumat (26/11).

Diantara yang menyampaikan ide tersebut adalah KH Abdullah Faqih, pengasuh Pesantren Langitan, Tuban, Jatim. Ide tersebut disampaikan saat Gus Dur berkunjung ke kyai karismatik itu, sehari setelah lebaran.

Namun, Gus Dur menegaskan, dirinya tidak akan begitu saja menerima perintah kyai, jika konsep NU tandingan tersebut belum jelas. “Itu perintah kyai, dan saya tidak mau kalau yang dimaksud belum jelas,” tegasnya.

Ditanya soal apa yang harus dikerjakan NU pada kepengurusan kedepan, secara umum, Gus Dur menyatakan bahwa NU harus melakukan perbaikan internal dan eksternal. Internal adalah seperti penertiban terhadap pengurus NU yang merangkap sebagai pengurus Partai Kebangkitan Bangsa. Hal ini untuk mencegah terseretnya NU pada wilayah politik praktis.

Meski begitu, jika terpilih menjadi pengurus PBNU lagi, Gus Dur menyatakan tidak akan mundur dari PKB. “Saya tidak pernah akan mundur. Mengurusi PKB tidak perlu harus masuk dalam struktural. Demikian pula sebaliknya,” tegasnya.

Sedangkan masalah eksternal yang harus dikerjakan NU kedepan adalah, NU harus mengembangkan pemikiran dan program yang sifatnya membangun masyarakat, ekonomi, budaya, pendidikan, sosial dan sebagainya. “Selama lima tahun semua mandek sama sekali”.

Hal senada juga disampaikan oleh KH Musthofa Bisri (Gus Mus). NU, kata dia, harus melakukan perbaikan eksternal dan internal. Secara khusus dia menyebutkan perlunya perbaikan internal yang bersifat manajerial, termasuk menghindarkan NU dari kancah politik praktis. Oleh karenanya, sosok Ketua PBNU kedepan harus memiliki system manajerial yang bagus. (sohirin)

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PKB Ingin Gus Dur Jadi Rois Aam PBNU
Dukungan ke Hasyim Muzadi Kian Menguat
Tolchah Cemaskan Rebutan Posisi Rais Aam NU
Ketua PBNU Yakin NU Tak Pecah
Kelompok Status Quo yang Akan Menyingkirkan JIL
Hasyim Muzadi: NU Sudah Sesuai Khittah
Aktivis Muda NU Dirikan Nahdliyin Crisis Center
Hasyim: NU Tandingan Tidak Akan Berumur Lama
Gus Dur Akan Buat NU Tandingan Jika Hasyim Terpilih
GP Anshor: Muktamar NU Pertarungan Dua Gajah
> selengkapnya...


Referensi

Inpres RI No. 4 Tahun 2000 Tentang Penertiban Rekening Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data