Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Lingkungan

Menelusuri Jejak Harimau Jawa
Jum'at, 26 November 2004 | 18:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kendati sudah dinyatakan punah, eksistensi harimau Jawa (Panthera tigris sundaica) masih misteri. Kisah pertemuan penduduk lokal – ini sulit dibuktikankebenarannya -- dengan macan belang gemulai ini, kadang-kadang masih terdengar di milenium baru ini. Sebagian menyebut kabar seperti ini bualan belaka, selebihnya meragukan pengetahuan saksi: jangan-jangan yang disaksikan itu kucing hutan atau macan kumbang.

Tapi sebagian lagi percaya bahwa macan jawa yang di era 70-an tinggal tersisa lima ekor lagi, masih ada. Dan sejak lama wilayah hutan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur diyakini jadi habitat terakhir macan jawa yang tersisa. Tinggal bagaimana menemukannya saja.

Untuk memecah misteri sekaligus memuaskan rasa ingin tahu inilah, Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) menggelar pencarian macan jawa. Ini merupakan upaya kedua setelah kegiatan sejenis dilakukan Tahun 2000 lalu. "Kita masih percaya seratus persen, bahwa hewan langka kebanggaan Indonesia ini masih hidup dan berkeliaran di kawasan hutan Meru Betiri,” ujar Kepala TNMB Siswoyo kepada Tempo, Jumat (26/11) siang.

Siswoyo tak asal omong. Menurutnya, ada banyak indikasi yang menguatkan keyakinannya atas keberadaan macan jawa. Antara lain ditemukannya bekas cakaran kuku tajam di pepohonan, jejak telapak kaki, bahkan pernah ditemukan kotoran
yang diyakini milik harimau jawa. Khusus buat temuan kotoran, Siswoyo amat yakin bahwa itu buangan macan jawa. Sebab kotorannya punya tanda khusus, yakni terdapat sisa tulang dan bulu hewan mangsanya semsial babi hutan atau banteng. "Kalau bukan harimau jawa, di Meru Betiri ini, hewan apalagi yang bisa memangsa kedua
binatang besar tersebut?” kata Siswoyo.

Untuk melakukan “perburuan” harimau jawa, pihak TNMB melibatkan 20 teknisi hutan TNMB dengan satu orang supervisor dari Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (The Tiger Foundations). “Kita libatkan pakar harimau bernama Waldemar Sinaga
agar lebih tajam dalam mengevaluasi kerja tim ekspedisi,” kata Siswoyo.

Target perburuan yang dilakukan TNMB, menurut Siswoyo, bukanlah menangkap harimau jawa yang terkenal ganas dan enggan berjumpa manusia itu. Tapi sebatas memastikan bahwa keberadaanya masih ada dan satwa dilindungi ini hidup nyaman di hutan Meru Betiri. Untuk itu, di berbagai lokasi terpilih telah dipasangi kamera foto yang akan menangkap wujud si belang. Wilayah yang diyakini sebagai habitat terakhir ini adalah kawasan Gunung Gendong dan sekitar Teluk Meru.

Perangkap kamera yang dipasang di dua wilayah ini menurut Siswoyo berjumlah 15 buah. Alat ini merupakan kamera otomatis yang akan memotret sendiri ketika sensor infra merahnya terputus. Tentu saja, terputusnya sensor ini diharapkan akibat dari melintasnya harimau jawa. Lima belas kamera ini sudah dipasang sejak 10 Oktober lalu. Dan hingga kini sudah dua kamera yang menyelesaikan jepretan satu rol film. Artinya sudah ada 75 frame foto dari kamera trap. Untuk pelaksanan ekspedisi kali ini, pihak TNMB menghabiskan anggaran Rp 100 Juta.

Mahbub Djunaidy

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data