Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pilot Garuda Alami Mati Jantung Tak Terdeteksi
Selasa, 23 November 2004 | 17:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pilot Garuda Kapten Sri Hardono dinyatakan mengalami silent myocardiac infarc (mati jantung yang tidak terdeteksi). Hal itu dinyatakan Amir M Armin, Kepala Balai Kesehatan Departemen Perhubungan kepada wartawan, usai pemakaman Hardono di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, Selasa (23/11).

Kematian mendadak Hardono adalah sesuatu yang sama sekali tidak diduga. Pasalnya, menurut Amir, saat medical check up rutin yang didakan tiap enam bulan, Hardono dinyatakan dalam keadaan yang sehat. Tercatat pada catatan medis terakhir yang dilakukan 10 November 2004, nilai kolesterolnya hanya 223 mg/ dl, dan tekanan darahnya 130/ 90. Angka ini, kata Amir, dianggap dalam taraf yang masih wajar.

Hasil otopsi yang dilakukan RSCM, menurut Amir, juga telah menetapkan bahwa Hardono mengalami coronary heart attack. Yaitu terjadinya penyumbatan pada saluran arteri coroner jantung, sehingga menyebabkan berhentinya kerja jantung. "Jadi ini mati yang wajar," tandas Amir.

Peristiwa itu, memang kebanyakan dialami oleh penderita hipertensi. Sementara almarhum sendiri memiliki catatan hipertensi dan kolesterol. Namun, "Hipertensi itu masih terkontrol," kata Amir. Selama ini, Hardono mengkonsumsi tiga jenis obat jalan yaitu, Ascardia, Norvas, dan Crestor.

Sementara, Aditya Barlianto, kopilot yang mendampingi almarhum pada penerbangan GA 501 itu, mengatakan bahwa kejadian itu terjadi beberapa saat setelah pesawat tinggal landas dari bandara Supadio Pontianak menuju Jakarta. Saat pesawat mendaki ke ketinggian sekitar 15 ribu kaki, Hardono merasa sesak, namun tidak dapat berkomunikasi dengan Aditya. "Hanya ada suara orang ngorok saja," kata Aditya.

Sesuai dengan prosedur, Aditya langsung mengambil alih pesawat Boeing 737-200 itu. Kemudian ia memanggil awak kabin untuk mencari dokter di antara penumpang pesawat. Akhirnya, Aditya memutuskan untuk kembali ke Bandara Supadio. Ternyata ada dua orang dokter yang kemudian langsung menangani. Namun Hardono tak dapat tertolong. "Sekitar sepuluh menit sebelum mendarat, dia dinyatakan meninggal."

Sebelumnya, kata Aditya, Hardono sama sekali tidak mengungkapkan keluhan apapun kepadanya. "Dia terlihat seperti biasa, normal," jelas lulusan Sekolah Penerbangan Curug angkatan 1994 itu. Aditya sendiri, baru dua kali bekerja dengan almarhum dalam pesawat yang sama. Selain itu, kopilot yang baru memiliki 550 jam terbang itu mengatakan bahwa penerbangan dilakukan sudah sesuai dengan jadwal.

Indra Darmawan?Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pilot Garuda Diduga Meninggal Karena Serangan Jantung
WNI Jadi Korban Kecelakaan Pesawat di Cina
Pilot Garuda Meninggal Setelah Melakukan Pendaratan
Keluarga Munir Minta Perlindungan dari Ancaman Teror
Kecelakaan Pesawat di Cina Tewaskan 53 Penumpang
Helikopter Milik Missionaris Asing Hilang di Wamena
Kotak Hitam Pesawat Rusia Mulai Bicara
Pesawat Rusak, Keberangkatan Citilink Tertunda Empat Jam
Pilot Pesawat TNI AU yang Jatuh, Selamat
Pesawat TNI AU Jatuh di Nganjuk karena Mesin Mati
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Wayne Rooney Kecanduan PlayStation
Setio Rahardjo Meninggal Dunia
Menu Istimewa Eros Djarot
Jangan Gula Sembarang Gula
Tiga Pekerja Indonesia Disiksa di Irak

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data