Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Jual Motor Untuk ke Malaysia, Sakit yang Didapat
Sabtu, 20 November 2004 | 21:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Satu lagi cerita duka tenaga kerja Indonesia yang mengadu nasib di negeri jiran. Nasib sial ini menimpa Aida dari Nusa Tenggara Barat. Tiga bulan silam, pria ini harus merogoh koceknya sebesar Rp 1,7 juta, dan diberikan kepada Mahrub, tekong asal daerahnya. Uang itu adalah hasil menjual motor satu-satunya.

Berangkat dari Desa Legong, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Selong, Lombok Timur, pria yang memiliki nama asli Supriadi ini menggantungkan harapannya untuk bisa mencari uang di Malaysia. Suami dari Nuruni agaknya bosan menjadi tukang ojek. Karena itulah dia lebih memilih menjualnya. Dia berharap sepulang dari Malaysia bisa membeli lagi motornya. "Tapi (ternyata) tidak bisa," kata Aida ketika mengisahkan lagi nasibnya itu kepada Tempo di Kamar 513, RS Koja, Tanjung Priok, pada Jumat (19/11) silam.

Memang, bukan uang yang didapat, tapi Aida harus pulang dalam keadaan sakit. Ayah Ida Royani (15 tahun), Hariani (7 tahun), dan Harianto (1 tahun) ini mengaku menderita usus buntu. Penyakitanya itu didapatkan sejak bekerja di Malaysia.

Bagaimana ceritanya? Selama tiga bulan di Malaysia, Aida hanya bekerja dua puluh hari. Selama sebulan pertama dia belum mendapat pekerjaan dan menumpang pada teman-temannya yang sudah terlebih dahulu ada di Malaysia.

Lalu seorang temannya memperkenalkannya kepada seorang tauke kayu. Aida kemudian bekerja sebagai tukang angkut dan susun kayu pada pabrik Somel di Tiram, Johor, Malaysia.

Setiap meter kubik atau tan, Aida dibayar 7 ringgit. "Sehari bisa tiga tan (yang saya angkut)," ujarnya. Selama sepuluh hari kerja, Aida dibayar sebesar 210 ringgit. Sementara gajinya untuk sepuluh hari berikutnya belum dibayar majikannya. Setelah dua puluh hari kerja, Aida tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena sakit. "Perut saya sakit macam ditusuk-tusuk," katanya.

Kepada majikannya, Aida minta untuk diantar ke klinik di Tiram. Di sana dia mendapat pengobatan, disuntik dan diberi resep. "Dibilang ada pecah di dalam," kata Aida mengenai analisis medis dari Tiram. Oleh karena itu, Aida kemudian dirujuk untuk segera berobat ke rumah sakit besar yang ada di Johor.

Karena tidak ada uang, Aida sempat menolak untuk masuk rumah sakit. Tetapi majikannya mendesak untuk tetap masuk rumah sakit. "Uang nomor dua, yang penting kamu masuk rumah sakit," tutur Aida menirukan ucapan taukenya itu.

Aida kemudian dirawat selama dua puluh hari di Sultan Aminah Hospital, Johor. Dia dioperasi pada hari ketiga di rumah sakit. Aida sendiri mengaku tidak tahu hasil operasi dan pemeriksaan dokter terhadap dirinya. Setelah sepuluh hari, dokter memperbolehkan Aida pulang. Namun karena tidak mampu membayar dan tidak ada yang menjemputnya, Aida tertahan sampai dua puluh hari. "Tauke saya tak tahu kemana," ujarnya.

Oleh pihak rumah sakit, Aida kemudian diantar ke Konsulat RI yang ada di Johor pada Selasa (9/11) pagi. Pada hari yang sama, Aida diberangkatkan Konsulat ke pelabuhan Stulang Laut, Johor Baru.

Dari sana, Aida naik motor boat tujuan Tanjung Pinang, Riau. Pada malam harinya, Aida melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan KM Bukit Raya, dan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada Rabu (10/11) pukul 10.40 WIB.

Di pelabuhan tidak ada orang yang memperhatikannya. Dengan inisiatif sendiri, Aida menanyakan letak posko kesehatan kepada petugas yang ada saat itu. Setelah diperiksa di posko kesehatan, Aida kemudian dibawa ke Rumah Sakit Koja. Selama berada di rumah sakit, Aida mengaku bosan dan ingin segera pulang ke kampungnya.

Pada Jumat (19/11) Aida diperbolehkan dokter untuk pulang dan dibawa pegawai Depsos menuju pool Damri di Kemayoran. "Tiket sudah diurus, tinggal berangkat saja," kata Aida meniru ucapan petugas tersebut.

Bayangan untuk segera memeluk istri dan anak-anaknya kembali harus dikubur untuk sementara. Karena Aida belum diberangkatkan dan terlantar di terminal selama satu hari. Untunglah, Aida mengantongi nomor Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI). Setelah menelepon, aktivis FOBMI menampungnya, dan akan mengongkosinya untuk pulang kampung. Kini, Aida tengah menunggu berangkat pulang, dan kapok untuk balik ke Malaysia.

Tito Sianipar - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data