Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pemerintah Dinilai Tak Kreatif Tangani Aceh
Jum'at, 19 November 2004 | 01:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Keputusan pemerintah untuk meneruskan status darurat sipil di Aceh adalah bukti bahwa pemerintah tidak kreatif menangani konflik di provinsi paling Barat Indonesia itu. "Keputusan ini menegaskan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak punya gagasan yang cukup jenius untuk keluar dari konflik Aceh," kata Pengamat Sosial Aceh Otto Syamsuddin Ishak yang dihubungi melalui telepon, Kamis (18/11)

Pemerintah memutuskan memperpanjang darurat sipil itu kemarin setelah berkonsultasi dengan DPR di Istana Negara. Perpanjangan dilakukan selama 6 bulan.

Menurut peneliti The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) ini, darurat sipil tidak jauh berbeda dengan darurat militer, yang banyak menimbulkan korban di pihak masyarakat sipil. Sesuai dengan data Imparsial, kekerasan terhadap warga sipil dari Mei-Oktober ada 325 kasus. Sebanyak 80 orang meninggal dunia, 36 orang hilang, 194 orang disiksa, dan 15 orang ditangkapi. "Tidak ada dampak yang positif bagi semua pihak, baik masyarakat Aceh, Indonesia, pemerintah, maupun Gerakan Aceh Merdeka," katanya.


Bahkan, menurut Otto yang saat dihubungi tengah berada di Solo, dua minggu lalu Departemen Kesehatan mengungkapkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa 51,1 persen orang Aceh mengalami gangguan kejiwaan. Korban terbesar terjadi di daerah yang mengalami operasi militer yang intensif seperti di Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Barat, dan Selatan. Artinya, kata dia, dampak negatif dari darurat sipil dan militer terhadap sekitar 4 juta warga Aceh sangat luar biasa.

"Sekitar tujuh puluh persen pemilih SBY di Aceh, bisa dikatakan tidak normal secara kejiwaan," ujar Otto setengah bergurau. Yang jelas, kata Sosiolog Universitas Gadjah Mada itu, gangguan kejiwaan warga Aceh disebabkan oleh kondisi struktural dan kultural yang sedang terjadi. Artinya, struktur politik pemerintahan dan masyarakat juga tidak normal.

Dari persepektif HAM, Otto curiga, perpanjangan masa darurat sipil hanya sebuah cara pemerintah untuk menghindar dari tekanan untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM di Aceh. "Agar masyarakat mengalami amnesia terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM berat di Aceh," katanya. Oleh karena itu, menurutnya, sampai saat ini pemerintah pun menutup rapat akses investigasi.

Indra Darmawan - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Sony Perkenalkan PS3 160 Gigabita
Pengacara: Tak Ada Saksi Muchdi Dendam kepada Munir
Wali Kota Jakarta Timur Akan Didatangi Pengunjuk Rasa
Wanda Hamidah Sibuk Seleksi Proposal
Indonesian Gilas Kamboja

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data