Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Pemerintah Belum Tunjuk Utusan Khusus Soal Palestina
Rabu, 17 November 2004 | 23:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Juru bicara presiden untuk masalah luar negeri, Dino Pati Djalal, mengatakan, pemerintah belum membicarakan secara lebih konkret pengangkatan utusan khusus untuk masalah Palestina. "Saya belum tahu bentuknya dan komposisi tim atau badan tersebut. Masih terlalu awal untuk membicarakan masalah ini. Mungkin setelah Konferensi Tingkat Tinggi APEC dan KTT ASEAN, kami akan membahasnya," ujarnya ketika dihubungi melalui telepon malam ini, Rabu (17/11) di Jakarta.

Seperti diberitakan, ketika berdialog dengan masyarakat Indonesia di Kairo, Mesir, Jumat (12/11), Presiden Yudhoyono mengungkapkan niatnya untuk mengangkat beberapa utusan khusus yang mengemban misi Indonesia bagi perdamaian di Timur Tengah, termasuk tercapainya kemerdekaan bangsa Palestina. Nama yang disebut Presiden sebagai tokoh Islam yang sudah memiliki jam terbang memadai untuk berkomunikasi dengan masyarakat dunia, khususnya dunia Islam, adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, Wakil Ketua PP Muhammadiyah Amien Abdullah dan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin.

Hasyim tadi siang menyatakan kesediaannya menjadi anggota tim special envoy (utusan khusus) itu untuk membantu mewujudkan perdamaian di Palestina. "Sejauh itu bermanfaat bagi umat dan negara, saya bersedia. Namun, perlu pembahasan dan persiapan yang matang," katanya kepada pers setelah menemui Presiden Yudhoyono.

Perhatian dan upaya memperjuangkan nasib Palestina, kata Hasyim, memang tak cukup dengan upaya diplomasi antarpemerintah, tapi harus melibatkan semua komponen bangsa yang ada. Termasuk melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI), mengingat persoalan Palestina dan Timur Tengah secara umum bersifat multidimensi. Hanya, upaya diplomasi melalui OKI sejauh ini dirasakan belum menyentuh esensi dan substansi persoalan.

"Kalau yang berkumpul itu bukan hanya pejabat negara, tapi juga para ulamanya, kita harapkan bisa menyentuh pada substansi," kata Hasyim tanpa menjelaskan apa yang menjadi substansi tersebut.


Seperti halnya Hasyim Muzadi, Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) Din Syamsuddin siap mendukung dan membantu pembentukan tim khusus solidaritas Palestina. Namun, dia juga mengaku belum tahu persis bagaimana realisasi ide Presiden tersebut.

Menurut Din, saat ini negara non-Islam seperti Jerman dan Rusia sudah lebih tanggap dengan keberadaan dunia Islam. Di kedua negara tersebut terdapat pejabat khusus setingkat menteri yang mengurus masalah diplomasi dengan dunia Islam. "Sekarang saatnya kita dari dunia Islam melakukan itu untuk berdialog dengan dunia Barat," ujarnya.

Yura/Evy Flamboyan - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Taksi Terbakar di Jalan MT Haryono
Presiden Diminta Beri Sanksi Heru Lelono
Selasar Sunaryo Gelar 'A Decade Of Dedication'
Penyidikan Korupsi PT Telkom Senilai Rp 110 Miliar Terancam Macet
Wakil Presiden: Cina dan Indonesia Saling Membutuhkan

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data