|
Ratusan TKI Terkatung-Katung di Port Klang, Malaysia
Sabtu, 13 November 2004 | 16:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ratusan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menuju Belawan terkatung-katung di Port Klang, Malasyia, karena tidak ada kapal. Sudah tiga hari menuggu di situ. Walau belum pasti kapa kapal datang, mereka setia menunggu. Sekitar 100 TKI diungsikan ke gedung serbaguna Pelabuhan Klang. Di situ mereka tidur dilantai kayu, tak ada tikar, apalagi kasur. Mengapa bisa begitu? “Penumpang membludak tapi kapal terbatas,”jawab Ketua Pengurus Pelabuhan Klang, Jalil Omar, kepada Tempo pagi ini.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber di Port Klang, ternyata kapal ke Belawan hanya satu. Kapal itu dipakai untuk mengangkut penumpang dari Port Klang ke Belawan dalam beberapa trip perhari. Repotnya, kalau kapal itu bermasalah di perjalanan, atau tidak ada penumpang dari Indonesia ke Malaysia maka terpaksa berhenti melaut, sampai menuggu adanya penumpang.
Agen tiket ke pelabuhan Belawan tidak bisa memberikan kepastian kepada TKI yang meminta kejelasan pemberangkatan. Jika didesak terus, para agen itu cuma bia menjawab “Mungkin jam sekian atau kapalnya belum sampai.”
Repotnya, para TKI juga tak mau sabar menunggu. Banyak pemegang tiket yang marah. Pihak agen berusaha meredam kemarahan dengan membagi nasi bungkus untuk akan siang dan makan malam bagi pemegang tiket jurusan Belawan. Sejumlah TKI mengancam akan menghancurkan kounter yang menjual tiket ke Belawan. Suasana depan kounter tiket pun menjadi tegang beberapa saat. “Dasar agen penipu,” ujar salah seorang perempuan yang tidak mau namanya ditulis.
Regar Harahap , yang mau pulang bersama keluarganya, terpaksa tidur di pelabuhan bersama calon penumpang lainnya.“Beginilah keadaan kami Pak,” keluhnya sambil menunjukkan sekelililng tempat duduknya yang penuh dengan sampah. “Pemerintah Indonesia tidak akan peduli nasib rakyatnya,”keluhnya setengah kesal..
Ia menambahkan bahw jangankan akan membantu dana pulang, “Menyumbangkan tikar untuk TKI tidur pun tidak ada. Kalau saya tahu sampai tiga hari begini, lebih baik saya pulang dulu ke Kuala Lumpur.”
Sedih dan kecewa juga merundung Juhairiyah. Ketika ditanya kapan akan pulang dia hanya menggelengan kepala, lalu menjawab, “Saya sudah beberapa kali tanyakan ke kounter tiket kapan kapal akan datang. Tapi tak ada jawaban pasti,” ujar perempuan asal Medan yang mengaku sudah dua tahun bekerja ilegal di Malayia itu.
Juhairiyah berkeluh kesah bahwa para TKI selalu diperas baik saat datang ke negeri jiran itu maupun saat mudik ke kampung halaman. Wanita 34 tahun yang bekerja sebagai cleaning service di sejumlah perkantoran di Kuala Lumpur itu mengaku khawatir uang Rp.300.000 di kantongnya tidak cukup membiayai kepulangannya ke kota Medan. “Hanya ini saja uang saya mas,” katanya memelas. Kantong Juhairiyah kian kempes karena harga makanan di Port Klang melambung, hari-hari ini.
T.H. Salengke - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|