Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Munir

Isu Diracun, Akhirnya Terbukti
Sabtu, 13 November 2004 | 06:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Penyebab kematian Munir di atas pesawat yang sedang membawanya ke Belanda pada 7 September lalu mulai terungkap. Mengutip hasil otopsi aparat hukum Belanda, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Suyitno Landung kemarin menyatakan, aktivis hak asasi manusia itu tewas karena racun arsenik."Di dalam tubuh almarhum (Munir) terdapat zat arsenik yang melampaui batas kewajaran," kata Suyitno kepada wartawan di Markas Besar Polri, Jakarta.

Kendati begitu, Suyitno menambahkan, belum diketahui bagaimana maupun kapan racun masuk ke tubuh Munir. Untuk itu, penyelidikan akan dilakukan dengan mengirimkan enam anggota Polri ke Belanda pekan depan.
Tim terdiri atas dua penyidik reserse, dua dari laboratorium forensik--salah satunya ahli toksikologi, dan dua dari kedokteran. Mereka akan didampingi staf Departemen Luar Negeri serta ahli toksikologi dari Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sebagai pembanding.

Munir meninggal di atas pesawat Garuda GA-974 dalam perjalanan menuju Belanda. Rencananya Munir akan menempuh studi hukum humaniter di sana. Saksi mata menuturkan, saat itu Munir muntah-muntah dan buang air terus-menerus setelah pesawat transit di Singapura. Ia bahkan dikabarkan sampai berguling-guling di lantai pesawat (Koran Tempo, 8/9).

Karena menganggap kematian Munir tak wajar, Departemen Kehakiman Belanda melakukan otopsi terhadap jenazahnya. Menurut kontributor Tempo Lea Pamungkas di Amsterdam, otopsi sebenarnya sudah rampung cukup lama. Namun, baru pada Kamis (11/11), Departemen Luar Negeri Belanda menyerahkan hasilnya kepada Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.

Ny. Suciwati, istri Munir, kemarin mendatangi Markas Besar Polri untuk menanyakan hasil otopsi. Ditemani sejumlah aktivis kolega almarhum suaminya, ia ditemui Suyitno Landung. Dalam pertemuan Suci menjelaskan bahwa Munir tidak pergi ke mana-mana sepekan sebelum berangkat ke Belanda. "Almarhum juga tidak suka jajan atau ke restoran," kata Suyitno mengutip Suciwati.

Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar di Kantor Kepresidenan menyatakan, tim penyelidik akan segera memeriksa saksi-saksi, baik saksi waktu berangkat, transit di Singapura, maupun selama penerbangan Jakarta-Amsterdam. Ada kemungkinan, kata dia, makam Munir di Batu, Malang, dibongkar. "Tapi ini opsi kedua, kalau bukti-bukti dari pemeriksaan pertama belum cukup," kata dia.

Manajemen Garuda Indonesia menyatakan siap diperiksa bila diperlukan. Direktur Operasi Rudi A.H. tidak banyak berkomentar karena mengaku belum memperoleh informasi yang jelas. "Saya tidak mengikuti kasus ini, tetapi kalau polisi mau memeriksa, kami siap," ujarnya.
Sementara itu, dalam konferensi di kantor Kontras, lembaga yang didirikan Munir, Ny. Suciwati meminta penyebab kematian suaminya diusut tuntas. "Jangan tanya perasaan saya, yang penting ketika tahu suami saya diracun, saya minta kasus ini diusut sampai tuntas," katanya terisak.

Pengacara Todung Mulya Lubis di tempat yang sama menyatakan, keluarga Munir paling berhak mengetahui hasil otopsi lebih dulu. Karena itu, ia menyayangkan pemerintah yang tidak segera menyerahkan dokumen hasil otopsi kepada keluarga. Ia menilai, pemerintah Belanda maupun Indonesia tidak punya itikad baik.

Kematian Munir yang memiliki pola sama dengan meninggalnya Baharuddin Lopa di luar negeri, menurut Todung, merupakan "pembunuhan politik yang bisa terjadi pada siapa saja yang vokal terhadap pemerintah". Ini, kata dia, tanda bahaya karena orang tidak boleh lagi berbeda pendapat dan mengemukakan aspirasinya.
Todung meminta, penyelidikan kasus ini tidak hanya ditangani oleh kepolisian. "Komisi Nasional HAM dan kekuatan sipil harus terlibat di dalamnya," kata dia.
Keluarga Munir di Batu juga meminta polisi mengusut tuntas kematian anggota keluarga mereka itu. "Kami mewakili keluarga Munir menyerahkan persoalan ini kepada teman-teman di Imparsial dan Kontras. Mereka lebih paham tentang hukum dan masalah hak asasi manusia," kata Mufid, kakak Munir, di kantor LBH Surabaya.

martha/ekoari/sunudyantoro/sunariah/sapto/poernomo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Garuda Indonesia Siap Diperiksa Dalam Kasus Munir
TNI Siap Lepas Yayasan Lebih Cepat
Polri Bentuk Tim Penyelidik Kematian Munir
Mulya: Kematian Munir Mirip dengan Baharudin Lopa
Keluarga Munir Minta Investigasi Menyeluruh
Keluarga Minta Kematian Munir Diusut
Munir Terkena Racun Arsenik
Selidiki Kematian Munir, Mabes Polri akan Kirim Tim ke Belanda
Istri Munir Datangi Mabes Polri
Hasil Otopsi Jenazah Munir Sudah Diterima Pemerintah
> selengkapnya...


Referensi

Komnas HAM dalam Tragedi Semanggi dan Trisakti
PEMBUNUHAN MASSAL DI AFDELING IV PT. BUMI FLORA ACEH TIMUR
PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DALAM PERADILAN HAM
Kepres RI No. 97 Thn.2003 Tentang Pernyataan Perpanjangan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Kepres RI No. 43Thn.2003 Tentang Pengaturan Kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat Dan Jurnalis Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
UU RI No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM
> selengkapnya...

Website

Wiranto


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [5]


Berita Terakhir

Tyson Gay Mundur, Powell dan Bolt Berpeluang
Selektif Menerima Tawaran
Sultan Yogya Usul Kotanya Disebut Kota Republik
Bill Davidson Tembus Basketball Hall Of Fame
Tips Mudik Dari Polisi

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data