|
Internasional
Proses Perdamaian Israel-Palestina Semakin Sulit
Jum'at, 12 November 2004 | 03:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kematian Pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat semakin mempersulit proses perdamaian Israel-Palestina. Pernyataan itu diungkapkan pengamat Timur Tengah Riza Sihbudi saat dihubungi Tempo, Kamis (11/11).
Riza mengatakan rakyad Palestina masih membutuhkan konsolidasi sebelum pemilihan umum presiden yang akan berlangsung 60 hari lagi. Selain itu masih timbul keraguan apakah figur pengganti dapat menjalankan peran seperti Arafat. ?Jika presiden terpilih terlalu didukung AS, akan ditentang dari dalam negeri. Tapi jika sebaliknya AS pasti juga akan semakin menentang,? tambahnya.
Sebenarnya, menurut Riza kunci perdamaian di Timur Tengah bukan di tangan Arafat atau Palestina. Tapi tergantung pada kemauan politik Israel dan Amerika Serikat. Calon terkuat pengganti Arafat diperkirakan Perdana Menteri Ahmed Qorei dan bekas Perdana Menteri Mahmud Abbas. Keduanya termasuk calon yang kepemimpinannya bisa diterima oleh Amerika. Namun dengan tata cara pemilihan secara langsung, tidak mudah untuk memperkirakan siapa yang akan terpilih.
?Tidak tertutup kemungkinan muncul nama yang selama ini tidak difavoritkan,? tambah Riza. Terutama dari kalangan Hamas yang terkenal sebagai pejuang garis keras. Selama ini Hamas cukup populer di lingkungan kampus dan masjid.
Ketidakpastian ini terutama karena Arafat tidak pernah memilih "orang nomor dua". Arafat juga tidak pernah menyiapkan calon pengganti. Bahkan dalam enam tahun terakhir, pemerintahan Arafat menjadi semakin otoriter.
Adanya tuduhan korupsi yang dilakukan Arafat, menurut Riza sangat dimungkinkan dengan pemreintahan yang otoriter tersebut. Ditambah lagi peran istri Arafat, Suha yang ikut campur dalam masalah keuangan negara. ?Tapi belum ada pembuktian betul atau tidaknya tuduhan ini,? ujar Riza.
Mawar Kusuma?Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|