Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Pengamat Militer : Ada Post Authority Syndrom di TNI
Rabu, 10 November 2004 | 08:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Masyarakat sipil tak percaya pada kepemimpinan milietfr. Karena trauma, selama Jenderal Soeharto berkuasa selama 32 tahun, yang penuh teror dan mengerikan terhadap rakyat. sebaliknya militer tak percaya dengan kepemimpinan sipil yang dianggap lemah dan menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat.

Setelah tumbangnya, Soeharto, pada tahun 1998, masyarakat sipil emoh dipimpin oleh militer. Sejumlah aturan dibuat agar militer tak berbuat macam-macam pada kepemimpinan sipil. Walaupun kini Indonesia di bawah Presiden bekas militer, namun, Menteri Pertahanan masih dipimpin oleh sipil.

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono berharap TNI di bawah Departemen Pertahanan, sepertihalnya usulanh polisi di bawah Departemen Dalam negeri. Upaya menempatkan TNI di bawah Departemen Pertahanan menundang berbagai tanggapan. Menurut pengamat militer dari CSIS, Koesnanto Anggoro, yang harus dipikirkan adalah blue printnya. "Bentuk seperti apa yang ideal, bentuk yang ada sekarang baru bagaimana model transisi yang harus dibuat”ujarnya.

Koesnanto melihat ketidakpercayaan militer terhadap sipil masih sangat besar. Image sipil tidak berubah dimata milter. “Sipil menurut militer sukanya cuma ngomong saja, mengesampingkan kepentingan rakyat, tidak bertindak untuk kepentingan negara, dan lainnya”katanya.
Ini bisa dilihat dari pernyataan Panglima TNI Endriartono Sutarto yang meminta penggabungan jangan terburu-buru.

Permasalahan lain, menurut Koesnanto adalah adanya perasaan superioritas dalam tubuh TNI. Bahwa mereka adalah garda bangsa, yang paling bertanggungjawab apa yang terjadi, yang bisa menyelamatkan negara, dan lainnya. Psikologi hubungan sipil dan militer masih sangat diwarnai gap yang luar biasa. Terutama perasaan superior di lingkungan militer. “ Jadi mereka melihat sipil selalu saja tidak mampu, ada ketidakpercayaan kepada sipil dan dalam semua kasus kita bisa uji itu,”ujarnya.

Menurut Koesnanto, ada semacam post authority syndrom dalam TNI. Dulu tentara selalu memberikan pernyataan, sekarang tidak. Waktu itu tentara identik dengan pemerintahan. “Secara resmi mereka mengatakan bahwa mereka alat negara, dan pemerintah yang memberikan pernyataan, namun terkadang Panglima, Kepala Staff dan lainnya seringkali memberikan pernyataan yang bukan porsinya”ujarnya. Misalnya dalam kasus Aceh yang seharus menjelaskan masalahnya adalah Menteri Pertahanan dan Presiden.

Mengenai porsi kebijakan, menurut Koesnanto, terdapat tiga tingkatan kebijakan yakni politik, operasional dan monitoring. Pejabat Sipil yang dipilih melalui Pemilu berada pada tingkat kebijakan politik, sedangkan Panglima Tentara pada level operasioanal misalnya tentang strategi perang, dan lainnya.

Menurutnya, yang harus dipikirkan terlebih dahulu apabila ingin menggabungkan TNI-Dephan adalah blue print-nya. Idealnya adalah TNI berada dibawah Dephan. Yang sekarang telah ada TNI tidak lagi berpolitik, tidak punya keterwakilan di DPR sehingga relatif tidak memainkan peranan dalam pengambilan keputusan politik, tapi dalam pelaksanaannya masih punya peranan. Sekarang harus dicari model transisi yang tepat untuk itu.

Desain model transisi ini dirasa sulit karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan. Terjadinya penggabungan mengakibatkan streamlining birocracy di lingkungan Markas Besar TNI. Ini akan mengakibatkan “rasionalisasi, pensiun dini, dan lainnya”. Untuk pensiun dini misalnya, akan membawa masalah kompensasi yang berimbas pada budget. “ini tidak mudah”kata Koesnanto.

Ewor




INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

KSAL Setuju Bisnis TNI Ditertibkan
Mayjen Safzen Resmi Jadi Komandan Marinir
Theo Sambuaga Dukung Penertiban Bisnis Tentara
Jaksa Agung Akan Seret 70 Tersangka Korupsi Ke Pengadilan
Presiden Resmikan Lumbung Energi Nasional
Sri Edi Swasono : SBY Tak Boleh Gagal
Marwah Daud Mencalonkan Diri Jadi Ketua Golkar
Menakar Program 100 Hari Pemerintahan Indonesia Bersatu
Lemhannas Dukung Bisnis TNI Ditertibkan
Panglima TNI: Penempatan TNI Dibawah Dephan Jangan Terburu-buru
> selengkapnya...


Referensi

Sejarah TNI AU
Jadwal Pemilu 2004 untuk Presiden dan Wakil Presiden
Jadual Pemilu 2004 untuk DPD, DPR dan DPRD
Kasus Korupsi Prioritas Kerja 100 Hari Polri
Profil Megawati Soekarnoputri
Profil Susilo B. Yudhoyono
Keputusan KPU tentang Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Laporan Penelusuran Penyumbang “Bermasalah ”
> selengkapnya...

Website

Departemen Pertahanan
Mahkamah Konstitusi
Situs Hamzah Haz
Wiranto
Situs Wiranto
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data