|
Nasional
Sidang Dewan Diwarnai Dua Keributan
Selasa, 09 November 2004 | 19:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Rapat Paripurna DPR hari ini Selasa (9/11/2004), diwarnai dua kali keributan. Keributan pertama dipicu pembacaan surat usul pengajuan hak interpelasi, dan yang kedua karena agenda pembacaan laporan Komisi I DPR RI tentang pembahasan surat presiden RI nomor R31/Pres/10/2004 perihal pemberhentian dan pengangkatan Panglima TNI.
Sidang sempat tenang ketika pimpinan DPR mengabulkan permintaan Koalisi Kerakyatan untuk tidak membacakan surat interpelasi. Agenda pertama mengenai pembacaan nama-nama susunan keanggotaan komisi-komisi dalam panitia anggaran DPR, berlangsung tanpa hambatan. Beberapa anggota Dewan malah tampak tidur lelap.
Masalah mulai muncul ketika Theo Sambuaga, Ketua Komisi I, maju ke mimbar untuk membacakan laporan Komisi I. Interupsi-interupsi berhamburan, diawali oleh Eka Sis Mulyono. Menurutnya, anggota-anggota komisi I baru dibacakan, belum disahkan. Jadi Komisi I belumlah terbentuk. "Jadi segala hal yang berkaitan dengan komisi I dibatalkan," teriaknya yang disambut tepuk tangan riuh dan teriakan dukungan dari Koalisi Kerakyatan yang didominasi oleh Fraksi Partai Demokrat.
Ketua DPR Agung Laksono mengatakan agenda laporan komisi I ini sudah menjadi bagian dari kesepakatan rapat konsultasi antar pimpinan Dewan dan pimpinan fraksi tadi siang.
Lalu Panda Nababan, wakil ketua FPDI-P, menimpalinya dengan menegaskan ucapan pimpinan Dewan bahwa sudah ada kompromi mengenai pembacaan laporan komisi I ini. Dia juga kembali menyinggung permasalah pembacaan hak interpelasi. Menurutnya pembacaan surat masuk adalah hal biasa. "Masalah disetujui atau tidak, diserahkan ke rapat paripurna," katanya.
Agung tetap konsisten membacakan agenda itu. Hal ini mengakibatkan keributan tak dapat dielakkan. Sebagian anggota fraksi Partai Demokrat memukul-mukul meja sambil berteriak marah. Diantara keributan itu, Fauzi dari Partai Demokrat meneriakkan, "Kita ditipu mentah-mentah. Kita sudah sepakat tapi kita ditipu," katanya.
Untuk menghindari keributan yang lebih panas, Agung berinisiatif menghentikan sementara rapat selama sekitar 15 menit dan meminta para pimpinan fraksi untuk maju ke mimbar, bersama-sama pimpinan Dewan berdiskusi di ruang rapat. Namun bukan hanya pimpinan fraksi yang maju, anggota yang "panas" juga ikut maju ke mimbar.
Ketika sidang dihentikan sementara, Tempo menanyai fraksi Partai Demokrat. Albert Ya Putra, anggota fraksi tersebut, menyatakan undangan yang mereka terima Senin (8/11) kemarin, menyatakan rapat paripurna hari ini memuat satu agenda, yaitu penetapan susunan keanggotaan komisi-komisi dalam panitia anggaran. Undangan itu ditandatangani Kepala Biro Persidangan, Achmad Djuned. Menurut Albert, agenda lainnya sengaja ditambah-tambahkan untuk membohongi mereka.
Setelah dikonfirmasi, ternyata penambahan agenda ini sudah dibicarakan pada rapat konsultasi yang diadakan siang ini oleh pimpinan DPR bersama kesepuluh fraksi. Sayangnya, hanya wakil fraksi PAN yang hadir dari Koalisi Kerakyatan. Dapat dipastikan, belum ada sosialisasi agenda rapat paripurna yang terbaru kepada empat fraksi lainnya.
Setelah sidang kembali dibuka, Agung membacakan dua kesepakatan hasil rapat konsultasi dengan 10 fraksi. Kesepakatannya adalah usulan-usulan interpelasi anggota sesuai dengan ketentuan Tatib, sehingga harus dibacakan dalam sidang untuk kemudian dibahas di Badan Musyawarah (Bamus). Kesepakatan kedua menyatakan, laporan Komisi I ditunda sampai dengan 23 November 2004. Anggota rapat menerimanya dan sidang ditutup dengan pembacaan surat interpelasi.
Theo Sambuaga yang ditemui setelah sidang mmengaku tidak keberatan dengan penundaan pembacaan laporan Komisi I. Dia siap kapan saja diperlukan. Namun dia sangat menyayangkan cara-cara yang ditempuh para anggota Dewan yang terlibat dalam keributan tadi.
Suliyanti - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|