Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Sri Edi Swasono : SBY Tak Boleh Gagal
Selasa, 09 November 2004 | 05:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintahan di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai telah mengecewakan banyak pihak karena susunan kabinet yang dianggap lebih mengakomodasi kepentingan partai. Namun, menurut Ekonom Sri Edi Swasono, SBY masih bisa menggunakan otoritasnya untuk membawa sosok-sosok yang dianggap gagal, untuk membuktikan kepiawaiannya membawa keluar bangsa ini dari keterpurukan.

Mutu kabinet SBY dianggap rusak pada 4 jam terakhir karena besarnya desakan partai-partai untuk mengakomodasi kepentingan mereka. Akibatnya "putera terbaik" Indonesia dan prinsip \"the right man in the right place\" tidak diterapkan. "Dan ini mempengaruhi mutu kabinet,"kata Sri Edi dalam acara deklarasi pembentukan Lembaga Pemberdayaan Pemuda 9 (GEMMA 9), di Hotel Four Seasons (Regent) Jakarta, Senin (8/11).

Kekecewaan terhadap kabinet SBY tidak berhenti sampai disitu. Tim ekonomi yang telah terbentuk menuai kritik karena dianggap Mafia Ekonomi Neoliberal. Menjadi keprihatinan banyak pihak karena kenyataan yang terpampang tidak sesuai dengan janji SBY sebelumnya. "Kampanye SBY sarat dengan harapan akan kembalinya semangat kerakyatan (populisme) dan nasionalisme ekonomi berdasar UUD 1945,"kata Sri Edi. Ini menumbuhkan harapan bahwa neoliberalisme akan berakhir dan kembali ke sistem ekonomi berdasar UUD 1945 yang pro-rakyat.

Dalam disertasi Doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB), kebijakan SBY yang populis nampak. Namun komitmen politisnya justru berbeda dengan yang digambarkannya dalam karya ilmiah tersebut. Agenda-agenda neoliberal mulai dilancarkan oleh menteri-menteri ekonomi, seperti divestasi perbankan, liberalisasi perdagangan, dan mode perampokan kekayaan negara.

Bahkan Tim Ekuin Kabinet Indonesia Bersatu disinyalir adalah orang-orang IMF dan ADB. "Ini terintip dengan pernyataan IMF dan ADB yang ketrucut menyatakan kesukacitaan mereka dengan terbentuknya Tim Ekuin sekarang,"ujar Sri Edi.

Dikhawatirkan, tim ini tidak mewaspadai globalisasi yang memojokkan perekonomian nasional, mengeruk kekayaan Indonesia, pro-bisnis dan anti ekonomi kerakyatan, serta sama lemahnya dengan mantan presiden Megawati dalam menghadapi hegemoni Konsensus Washington.

Sri Edi Swasono menawarkan solusi untuk mengatasi problem tersebut. "Tim Ekuin Kabinet Indonesia Bersatu akan bisa pro-rakyat bila bisa ditundukkan oleh presiden SBY dengan kepemimpinannya,"ujar Sri Edi. Suatu hal yang agak sulit dibayangkan, ibarat "ganti agama".

Sri Edi tidak yakin kalau SBY telah benar-benar terkooptasi oleh Tim Ekonomi-nya yang lebih pro-pasar ketimbang rakyat.Menurutnya, SBY adalah orang Jawa yang bisa "mengalah" mundur selangkah, untuk bisa maju menendang ke kiri dan ke kanan, sehingga dapat maju dua sampai tiga langkah.

Itu dibuktikan dengan terbentuknya Rancangan Inpres tentang Doktrin Kelautan Indonesia yang mendudukkan kedaulatan pelayaran nasional sebagai tuan di negeri sendiri. "Semua itu atas peran Menteri Bappenas dan Menteri Perhubungan yang sebagai teknokrat, tunduk untuk melakukan perintah-perintah sakral dari atasannya, berdasar UUD 1945 dan Pancasila,"ujar Sri Edi lagi.

Karena itu, gerakan kebangkitan Indonesia hendaknya dilandasi oleh Vox Populi Vox Dei, dan menjauhi adagium Vox Populi Vox Argentium, dimana suara rakyat adalah suara uang. "Ini akan lebih runyam lagi bila kedaulatan rakyat berubah menjadi kedaulatan partai, dan partai-partai tidak lagi menjadi rekonsiliator nasional tapi dekonsiliator sambil berdagang sapi,"kata Sri Edi.

Maka pilihannya adalah supaya SBY mengembalikan trust dan mewadahi hope dari rakyat sebagai modal kepemimpinannya. Jika tidak, akan sama saja seperti presiden sebelumnya, Indonesia sulit bangkit.

Karena itu, Sri Edi mengaku pernah membisikkan kepada SBY pada tanggal 7 Oktober 2004 di makam Bung Hatta, mertuanya. "Pak SBY, Anda tidak boleh gagal."


Eko Arie Wibowo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Menakar Program 100 Hari Pemerintahan Indonesia Bersatu
Indonesia – Singapura Bicarakan Ekstradisi
Presiden Akan Memberikan Pidato 1 Syawal 1425 H
Indo Farma Akan Up Grade Pabrik 2005
Presiden akan Terima Perdana Menteri Singapura
Presiden Sampaikan Tiga Strategi Ekonomi
Presiden Sampaikan Tiga Strategi di Bidang Ekonomi
Presiden Sampaikan Strategi Ekonomi ke Perbankan Nasional
Enam Koruptor Telah Huni Sel-Sel Di Nusakambangan
16 LSM Minta Gubernur Sumatra Barat Mundur
> selengkapnya...


Referensi

Jadwal Pemilu 2004 untuk Presiden dan Wakil Presiden
Kasus Korupsi Prioritas Kerja 100 Hari Polri
Profil Megawati Soekarnoputri
Profil Susilo B. Yudhoyono
Keputusan KPU tentang Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Laporan Penelusuran Penyumbang “Bermasalah ”
> selengkapnya...

Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Mahkamah Konstitusi
Situs Hamzah Haz
Situs Wiranto
Partai Demokrat
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Bursa Amerika Anjlok
Sumatera Barat Dapat Penawaran Perdagangan Karbon
Pak Wonohito Dimakamkan Siang ini
McCain Pilih Gubernur Perempuan Sebagai Cawapres
Jalan Jakarta Pagi Lancar, Siang Rawan Kemacetan

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data