|
PP Muhammadiyah: 1 Syawal Jatuh pada 14 november 2004
Senin, 08 November 2004 | 01:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum PP Muhammadiyah Achmad Syafii Maarif mengatakan, PP Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1425 H jatuh pada Minggu, 14 November 2004.
Menurut dia, Muhammadiyah telah menetapkan itu sejak 15 Oktober lalu. “Ini sudah menjadi keputusan resmi Muhammadiyah di seluruh Indonesia,” kata Syafii Maarif ketika dihubungi Tempo.
Berbeda dengan Muhammadiyah, Nadhatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi masyarakt terbesar di Indonesia, sampai saat ini belum memutuskan 1 Syawal 1425 H akan jatuh pada hari apa.
Menurut salah seorang Pengurus Pusat NU, Cecep Syafrudin, NU masih menunggu musyawarah dengan Departemen Agama dan seluruh organisasi masyarakat Islam lainnya di Indonesia. “Pertemuan ini baru akan dilaksanakan dalam dua atau tiga hari lagi,” katanya.
Ketika ditanya perbedaan penetapan 1 Syawal yang biasanya terjadi antara Muhammadiyah dan NU, Cecep menjelaskan, Muhammadiyah hanya melihat dari hasil hisabnya saja. Sedangkan NU selain berdasarkan hisab, juga berdasarkan rukyat yang harus berdasarkan fakta bahwa memang 1 Syawal itu akan jatuh pada hari H.
Sementara itu, Departemen Agama menurut rencana baru akan mengeluarkan keputusan setelah sidang itsbat (penetapan) pada 29 Ramadhan atau 12 November 2004.
Hanya saja, Direktur Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Taufiq Kamil sebelumnya mengatakan, berdasarkan analisa Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama ada kemungkinan tidak ada perbedaan antara hisab dan rukyat, sehingga 1 Syawal akan jatuh pada Ahad, 14 November.
Ketua Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama Wahyu Widiana waktu itu juga menambahkan, seluruh ahli hisab telah sepakat bahwa pada 29 Ramadhan (12 November), bulan berada di bawah ufuk 3-5 derajat sehingga bulan tidak akan terlihat. “Karena itu, 1 Syawal jatuh pada lusanya atau Minggu (14/11),” katanya.
Sedangkan jika berdasarkan rukyat, pada 12 November akan dilihat apakah bulan sudah terlihat atau belum. Jika belum terlihat, maka 1 Syawal akan jatuh pada lusanya, yakni pada Minggu (14/11).
Menurut Wahyu, dengan kondisi bulan berada di bawah ufuk seperti saat ini, sejak 1964 tidak pernah ada sepanjang sejarah seseorang pernah melihat bulan. Jika pun ada yang mengaku melihat, para ulama akan menolak karena ada kemungkinan yang dilihat itu adalah bintang.
“Berdasarkan analisa, bulan tidak akan terlihat pada Jumat (12/11), sehingga 1 Syawal jatuh pada Minggu (14/11). Karena itu, kemungkinan besar tidak ada perbedaan rukyat dan hisab,” katanya.
Evy Flamboyan Minanda - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|